Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatanku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Tawang mangu : sebuah memoar

Bulan ini kami sekeluarga akhirnya menyempatkan mengunjungi kembali kota tempat dulu aku dan adik menghabiskan masa kanak-kanak, Tawang Mangu. Kembali setelah lima belas tahun itu rasanyaa... takjub! Aku tersenyum-senyum sendiri ketika kami berjalan menuju rumah kontrakan kami dulu. Setiap sudut gang itu adalah taman bermainku dan Rafi dulu.  Entah bagaimana perasaan Rafi, karena katanya dia sama sekali tidak ingat lingkungan itu, hanya beberapa katanya.









Hampir semua dilingkungan ini masih sama, hanya berubah lebih bagus. Grojogan Sewu, Pasar tawang mangu, Toko Saya, dan terminal masih ada dan berubah lebih bagus. Aku mengingat Toko Saya karena setiap sebulan sekali bapak mengunjungi kami (Mama, aku dan Rafi) pasti  mengajak beli es krim di Toko Saya.  Toko bangunan disamping gang sudah berubah menjadi koperasi. Rumah-rumah disana hanya beberapa yang mengalami perbaruan, ada juga bahkan yang ditinggalkan. Dalam perjalanan beberapa tetangga mengenali kami, mengenali Mama tentunya, sebagian besar sudah lupa wajahku dan Rafi  (tentu saja, aku Rafi umur 11 dan 3 waktu itu, muka kami pasti berubah). Cerita mengalir tentang bagaimana kami dulu, keseharian kami dan hal-hal yang berkesan yang masih teringat sampai sekarang. Tentang beberapa teman yang sudah pindah dan kemudian eyang-eyang yang sudah meninggal.  Aah... Jadi begini rasanya reuni setelah bertahun-tahun tak bertemu dan tak ada komunikasi.


"Aku nggak inget apa apa, mbak, tapi nggak tau seneng rasanya hari ini" kata Rafi. Ya, aku pun senang. Tawang mangu menempati sudut tersendiri di ruang memori. Selamanya akan selalu teringat sebagai tempat bermain selama 4 tahun yang menyenangkan. Kami punya sodara jauh yang masih mengingat kami betapapun lamanya kami tak kembali.

Eh, Perjalanan itu juga mengingatkanku dengan waktu yang sudah berlari secepat pertumbuhan tinggi Rafi yang dulu hanya setinggi pusar. Juga usia Bapak dan Mama yang sampai setengah abad tahun ini.



Terimakasih Tuhan, kami masih bisa bersama seperti ini. Semoga bisa bersama seterusnya, dan bapak mama mendapat semua yang masih menjadi keinginan beliau di usia mereka yang mencapai angka 50 ini.


*ditulis pada hari ulang tahun bapak, 24 Mei

Selasa, 18 Juni 2013

Move 'without' On

Menurutku, aku  termasuk orang yang setia pada pilihan pertamanya sendiri. 

Terutama dalam memilih tempat tinggal (baca: Kos, baca : kamar kos). Dulu, tiga tahun di Purwokerto, aku menetap di tempat yang sama tidak pindah, padahal tempat kosku saat itu bisa dibilang jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.  Tiga tahun di Magelang, aku pindah satu kali, itu pun juga karena satu hal yang mengharuskan pindah, tempat kos akan direnovasi.

Rekorku adalah di Semarang, dua tahun di Semarang, pindah dua kali, yang berarti 3 kos aku tempati. Dan sekarang, karena satu dan lain hal, aku diharuskan pindah kamar. H-a-n-y-a pindah kamar, dan keenggananku setengah mati. Sampai hari itu juga yang akan menempati kamarku datang, aku baru berkemas dan memindahkan barang. Rasanya sungguh malas berkemas. Karena bagiku berkemas hanyalah pada saat aku akan meninggalkan rumah (berpindah ke kota lain), dan kemudian saat aku harus berpindah dari kota itu karena tugasku disitu sementara sudah selesai. Jadi berkemas itu membutuhkan effort yang besar untukku. Yah, mungkin, setia itu hanya berbeda tipis dengan malas, dan enggan. (Hehe)

Menurutku setiap tempat yang telah kita tinggali itu seperti telah memiliki aura kita.  Ada sebagian jiwa kita yang tertinggal disana, sehingga setiap berada di tempat tersebut kita merasa nyaman. Aku sering merasakan sensasi nyaman itu jika bepergian dari arah jogja atau Solo ke rumah, maka ketika aku sudah tiba di Purwokerto, meskipun masih tersisa beberapa jam perjalanan, aku sudah merasa nyaman dan 'aman'. Kalaupun ada suatu kejadian yang membuatku harus berganti-ganti kendaraan disini, aku tidak khawatir, karena aku mengenal kota ini, begitu pikirku.

Begitu pula kamar, menghadirkan rasa nyaman, dan terasa seperti rumah itu membutuhkan waktu lama.  Karena di kota perantauan tentu saja hanya kamar itu yang bisa dianggap hak milik dan aku sebut 'rumah' sebagai tempat kembali. Karena itu ketika aku lelah, yang terbayang olehku 'masih' kasur dan kamarku yang dulu.

Yah, tapi tak ada yang salah dengan tempat baru. Setidaknya disini aku bisa punya jendela, bisa mendengar suara kicau burung dipagi hari, walaupun disela suara riuh rendah bunyi kendaraan di kejauhan. Dan, setidaknya bisa mengintip suasana pagi kota jakarta yang sebelumnya tidak kudapat dari kamarku dulu.

Pagi yang mengintip dari jendela
Okey, Selamat pagi! Hari ini aku harus berangkat lebih pagi, dan  akan menjadi bagian dari warga ibu kota yang berdesak-desakan di halte dan moda transportasi Bus way!

Minggu, 26 Mei 2013

A place we called 'Home'

Siang ini, kami, aku dan dua sepupuku berkumpul, bercanda-canda, sembari bercerita tentang kehidupan yang kami jalani saat ini. Meskipun salah satu dari kami sudah menikah, tidak membuat percakapan ini berfokus pada dunia pernikahan, atau meng-kompori yang belum menikah untuk menikah. 

Pembicaraan seru ini hanya tentang pekerjaan dan gaya hidup pendukungnya diusia kami yang saat ini mendekati seperempat abad. Tentang aku yang hidup di ibukota dan gaya hidup umumnya para kaum urbannya, sepupuku yang pernah kuliah di Jakarta kemudian saat ini tinggal dan bekerja di Kota tetangga Pemalang, dan mbakku yang sudah menikah, kuliah, sambil bekerja dan tinggal di rumah.

Meskipun pembicaraan ini sudah memiliki topik yang berbeda, rasanya sungguh masih sama, seperti 10 tahun yang lalu. Aku SMP, sepupuku SMP satu tahun lebih tua dariku, dan mbak SMA. Bercanda, saling mengejek, senang dan excited jika berkumpul. Hanya saja pembicaraan kami dulu hanya tentang macam gaya guru-guru, lucunya teman ketika pelajaran, dan seri-seri nakal membolos pelajaran atau sekolah. Ah, rasanya sungguh baru kemarin. 

Kemudian, aku teringat, 20 tahun yang lalu, ketika aku masih taman kanak-kanak, aku pernah mengalami tahun-tahun sekolah yang sangat menyenangkan. Pagi tadi, aku sengaja lari pagi ke areal perkebunan teh, yang sudah ada jauh sebelum aku lahir. Di areal perkebunan itu pula dulu tempatku bersekolah TK. Setiap berangkat dan pulang aku melewati jalan-jalan setapak membelah perkebunan ini. Diantara pemetik teh yang berjalan pulang ke pabrik, aku berjalan sebaliknya pulang kearah rumah. 
Melihat ini, seperti mencelupkan kepala kedalam mangkuk pensive yang sudah dituangi cairan memori 20 tahun lalu.

Dan kini, kembali aku terduduk bersama sepupu-sepupuku, masih bercerita, tentang senangnya dulu ketika masih suka main-main. Hingga sepupuku berkata, dalam bahasa jawa tentunya.
"aku wis bosen dolan-dolan, wis pengen duwe 'umah' .. "
*/*
"aku sudah bosan bermain-main, aku sudah ingin memiliki 'rumah'.. "

Tentu saja, aku tahu maksudnya bukan hanya sekedar bangunan rumah, tapi 'rumah' untuk tempat istirahat saat kita lelah hati. 

***

Aku tersenyum.

Minggu, 07 April 2013

Mungkin

Mungkin,

Tuhan memberikan manusia
dua mata, dua telinga
dua tangan, dan dua kaki
dibanding satu mulut,

Agar kita
lebih banyak melihat, mendengar
bertindak dan bergerak
dibandingkan hanya berbicara.

***

Minggu, 10 Februari 2013

Things Happend For a Reason


Tidak ada yang kebetulan, setiap pertemuan dimaksudkan untuk terjadi sesuatu
Setiap keberadaan, dibutuhkan untuk saling melengkapi

Kadang terpikir, "buat apa si kecoa itu ada?". Bau, menggelikan. Sepertinya jika tak ada kecoa pun, hidupku akan tetap berjalan, tak ada orang yang merasa rugi. Kecuali mungkin para peneliti kecoa, pecinta kecoa, atau  para pecinta binatang, yang memelihara binatang yang harus diberi makan kecoa. Haha, sepertinya aku sudah menjawab sendiri pertanyaan "buat apa kecoa ada?". Tapi, ternyata kecoa berguna lebih dari sekedar untuk diteliti peneliti, dicintai pecintanya, atau dimakan pemakannya. Kecoa merupakan hewan yang dapat mengurai nitrogen dari sampah-sampah, untuk dapat digunakan tanaman untuk hidup. Kecoa makan sampah, didalam perut kecoa nitrogen dalam sampah dibuang lewat pup-nya. Pup mengandung nitrogen diserap tanaman. Tanaman hidup, dapat menghasilkan oksigen untuk bernafas. Tanaman sayur dapat dimasak, dijual dan dimakan. Dan.... Jika ditarik garis panjang, mungkin saja tanaman yang "diberi" jatah nitrogen oleh kecoa untuk hidup itu memberikan oksigen yang kebetulan aku hirup, dan mungkin juga tanaman itu yang akhirnya ada dalam bentuk oseng sayur di piring makanku. Dalam hubungan yang jauh, kecoa ada gunanya untukku. 

Things happend for a reason 
Tidak ada yang kebetulan, setiap perpisahan pun juga dimaksudkan untuk sesuatu. 

Seorang teman pernah mempertanyakan, setelah menonton Habibie & Ainun. Kenapa Pak Habibie dan Bu Ainun tidak ditakdirkan saja untuk terus bersama? Apa yang masih harus pak Habibie lakukan sehingga bu Ainun harus pergi lebih dulu? 
Dan jawabannya aku temukan persis keesokan harinya setelah aku -akhirnya- juga menonton Habibie Ainun. Dalam Talk show disalah satu Televisi swasta. Pak Habibie sendiri juga tak pernah menyangka, kenapa bu Ainun harus pergi lebih dulu. Beliau selalu percaya bahwa pada akhirnya nanti beliaulah yang akan pergi lebih dulu. Ketika Bu Ainun dipanggil, berpulang ke Rahmatullah, Pak Habibie sedih, sedih yang amat sangat, hingga beliau sakit. Sakit yang tak dapat diobati karena sumber sakit beliau adalah kondisi psikologisnya, kondisi sakit yang disebut Psikosomatik.

Dokter beliau memberikan 4 opsi , pertama, beliau harus diberi obat, seperti pasien-pasien sakit jiwa. Kedua , ketiga opsi lain aku lupa persisnya. Opsi keempat, beliau harus mencurahkan isi hati beliau kepada seseorang, psikiater, atau mungkin lewat tulisan. Pak Habibie memilih opsi yang terakhir, mencurahkan kesedihannya dalam bentuk buku. Hingga akhir beliau menulis, beliau mulai menyadari, kenapa Allah memanggil Bu Ainun lebih dulu. Jika Bu Ainun yang ditinggal Pak Habibie, mungkin Bu Ainun tak akan mencurahkan kesedihannya kepada siapa pun karena kepribadian beliau yang introvert. Tak akan ada buku Habibie & Ainun, tak akan ada Film Habibie & Ainun, tak akan sebanyak ini orang tahu tentang kisah cinta mereka. Tak akan ada orang yang seperti aku yang terinspirasi oleh kesejatian cinta mereka. Ya, perpisahan pun dimaksudkan untuk sesuatu. 

Things happend for a reason

Tidak ada kebetulan, walau menengok pada diriku sendiri, sepertinya banyak sekali kebetulan-kebetulan  yang aku temui. Seperti kebetulan sekali, aku melihat lowongan kerja pada situs yang sudah lewat deadline sebenarnya, tapi entah kenapa aku tetap mengirim aplikasiku. Kebetulan kemudian aku diterima bekerja di tempatku sekarang, dimana biasanya mereka mencari pekerja lewat rekomendasi dari internal organisasi tersebut. Kebetulan juga ketika akhirnya aku memutuskan mau bekerja disana, kemudian mulai mencari tempat tinggal (kos) aku berhenti pada sebuah warung. Warung bernama depot surabaya yang kemudian menunjukkan pada sebuah kos yang aku tinggali sekarang. Kos ini juga tidak pernah memasang plang karena biasanya yang bisa tinggal di kos ini, juga rekomendasi dari orang yang pernah tinggal di kos ini sebelumnya. Kebetulan sekali.

Tapi, thing happend for a reason, right?

Kebetulan-kebetulan ini, pasti penunjuk jalan untuk sesuatu. Sesuatu yang lebih dari sekedar untuk melihat ondel-ondel secara langsung. Atau melihat dan merasakan banjir secara langsung pula. Atau menjadi pengguna jalan macet ibukota yang biasanya hanya dilihat dari televisi. Lebih dari itu, keberadaanku disini pasti dimaksudkan untuk sesuatu. 

Kota dengan lautan beton
Di kota yang masih terasa bukan kota tempat tinggal impian ini, aku masih saja bertanya, untuk melakukan apa ya aku disini? Untuk menghasilkan apa? Atau,untuk bertemu siapa?


***

Untuk kamu saya ada,
dan untuk saya, kamu ada
Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain
-Dee, Akar-



Rabu, 30 Januari 2013

Cangkir dan kopi



"Aku cangkir, bagi kopi pahitmu", ucap Harimau jantan pada betinanya. (11.22 am near Cairo, Al Qahirah - status dalam media social seorang teman)

Jariku begitu gemas, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas, aku mengetik ...

"Bagaimana jika kopiku banyak, dan cangkirmu tak muat lagi menampungku?" jawab betina.

Dia membalas ...

"Cangkir ini akan selalu muat menampung berapapun banyaknya kopimu, bahkan empat kali lipat-pun"

"Maka, sepertinya kau lebih pantas disebut ember serbaguna dibanding cangkir"

" :)) " sepertinya dia mengiyakan.

Lagi, suatu pertanyaan terlintas.

"Apakah itu artinya, kau rela kehilangan dirimu sendiri sebagai cangkir menjadi ember, hanya untuk memuat perubahan banyaknya kopiku?"

Tapi pertanyaan ini tak sampai terlontar. Ingin aku dengar pendapatnya tentang ini. Hanya saja sepertinya pertanyaan ini bukan untuknya, tapi untuk kujawab sendiri.

***


Selasa, 22 Januari 2013

First Love


"Kenapa cinta pertama ya?" Sudah lama aku ingin bercerita tentang hal ini, tapi masih banyak pertanyaan tentangnya yang belum terjawab. Tak bisa aku simpulkan jawabnya. Hingga ..... aku lupa.

Kemudian belakangan aku baru saja menyelesaikan menonton sebuah drama. Setelah bosan dengan cerita-cerita tentang perebutan kekuasaan, kekayaan, balas dendam yang tidak ada habisnya, juga hal-hal yang tidak masuk akal, akhirnya aku kembali menemukan drama dengan tema biasa-biasa saja, hanya tentang cinta. Cinta kepada idola, teman, orang tua, saudara, dan juga cinta pertama. Pertanyaanku terasa terjawab pada epilog drama, setelah 45 menit x 16 durasi drama tersebut.


The reason why we think first love is beautiful is not because people we first loved were actually handsome, or pretty.  
 It's because we were unconditional, innocent, or a bit stupid at the time of first love. 
And because, we know we can never go back to young, passionate time of our days.

Jadi seperti kata seorang tokoh motivator, Mario Teguh tentang cinta pertama yang juga senada, "yang kita kagumi dari cinta pertama, bukanlah ia yang kita cinta. Tapi diri kita sendiri yang bisa mencinta."

First love is a bit rash.
 Without any calculation, we throw ourselves with passion and finally come to face failure. 
But it is at the same time dramatic. It comes with inexplicable feelings that we never get to experience again.

Teringat percakapan dengan teman, tentang ketidaksukaanku pada makanan yang menyisakan aroma bawang putih mentah di mulut. Dia bilang, "aroma bawang putih itu memang susah hilang yah, kayak cinta pertama." Yang kemudian langsung disambut tawa, dan ungkapan nada persetujuan, "Eh, Iya yah"  :-)

So first love becomes the most dramatic moment of our lives. 
It's okay to fail. Tragic stories stays longer than "happily ever after". 
It's nice to have that wonderful story as one chapter of one's life.

Seperti kisah Titanic yang sampai sekarang masih aku ingat jelas, masih banyak di suka. Bahkan mungkin bisa dikatakan melegenda, seperti Romeo & Juliet, Sampek Eng tay, Laila Majnun. Meskipun rasanya sangat disayangkan kenapa tidak berakhir bersama, tapi justru karena rasa ketidakpuasan dan kekecewaan itu membuat cerita menjadi lebih terkenang.

First love is a periode of time. It never comes back. 
If the next love comes, time has to yield for that new love. 
It might not be as innocent as the first love, but 
it would be a little more mature, due to the pain suffered with the first love.

Nah, ini yang seharusnya terjadi setelah kita bisa berdamai dengan kata-kata "first" untuk kemudian membuka hati untuk menerima. Tuhan lebih tahu, siapa terbaik untuk kita.

A person who dreams of love is the one who waits. 
And a person who waits can recognize the love when it comes near him.

Tentu saja! " Radar Neptunuuuuusssss...." (sembari dua jari, jempol dan telunjuk dua tangan beradu di sisi kepala, menjadi semacam antena)

After the romance, the real life comes in,
innocent gets dirty,
passion gets cold,
and youth get old with cleverness.
So first love becomes part of the one's exhausted daily life.

Thats why first love looks like it can't be accomplished.


Pertanyaan sepertinya terjawab.


***


Drama : Replay to 1997.

Sabtu, 19 Januari 2013

Catatan


Teringat sebuah quote yang banyak menjadi status dalam banyak media social oleh teman. Kata Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca.

"Ada kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya."

Pada pribadi yang 'tahu benar akan tujuan hidupnya'. Hanya pada yang sudah tahu benar akan tujuan hidupnya saja, kekuatan dahsyat itu akan datang.  Sementara aku masih merasa aku tak tahu apa tujuan hidupku, tak tahu benar apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. Tidak terlambatkah aku? Kata banyak orang remajalah saatnya pencarian jati diri. Tapi aku hingga remaja akhir, bahkan mungkin sudah dapat dikatakan dewasa, aku masih mencari jati diri. Seharusnya tidak pada usiaku saat ini, yang sudah menempuh panjangnya pendidikan hingga menjadi sarjana kan? Haha, ingin rasanya mentertawakan diri sendiri. Mau dibawa kemana hidupku ini.

Hingga belakangan hidupku bergerak seperti mengikuti alur saja, kemana arus membawa. Disini lah aku sekarang, tinggal di ibukota, jauh dari keluarga. Aku melangkah menebak-nebak saja, jalan ini kah? Atau itukah? Aku berpikir kemudahan dalam proses yang membawaku kesini, adalah petunjuk bahwa disinilah seharusnya aku berada. Kujalani saja. :)

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Aku jarang bermasalah dengan suatu tempat baru, asal disana ada kawan yang menyenangkan, yang memang juga aku temukan disini. Tapi untuk menjalani rutinitasku sehari-hari, -meskipun aku masih tetap belum tahu- aku merasa yang aku kerjakan selama ini belum terasa 'benar'.  Sepertinya bukan jalan ini yang aku inginkan.

Tapi, tentu saja tidak bisa terus begini bukan? Dengan tidak mengurangi syukurku untuk apa yang sudah aku miliki, aku harus mulai bergerak lagi. Meskipun masih menebak, sepertinya aku harus mencoba jalan lain.  Seperti mencoba makanan asing, meskipun tidak tahu rasanya, mencobanya pasti memberi jawaban atas pertanyaan "suka kah aku pada nya?". Iya kan?

Selasa, 01 Januari 2013

Tak Semudah Itu


Dream it and make it happen

Sewaktu masih kecil, masih SD, ketika ditanya ingin menjadi apa suatu saat nanti aku akan menjawab dengan lantang, "Jadi Dosen".  Ketika ditanya ingin kuliah dimana, aku juga menjawab dengan lantang, "di UGM ". Jawaban tersebut, seperti semacam mimpi, mimpi masa kanak yang sebenarnya, sampai sekarang pun aku masih menginginkannya. Tetapi entah, semakin bertambahnya usia, langkah-langkahku bergerak seakan menjauhi mimpi itu. Tujuan-tujuan itu tidak berjalan lurus, sehingga nasib seakan membawaku bukan kuliah di UGM, dan belum pula menjadi Dosen.

Kemudian mulai dari saat itu, aku seperti menurunkan target ku, menjadi target-target kecil yang bisa aku capai,  menuliskan mimpi-mimpi kecil lainnya yang lebih mudah untuk aku raih. Membeli ini itu dengan hasil kerja sendiri, menjelajah, pergi ke suatu tempat. Dan setelah beberapa dari target itu pula bisa tercapai, rasanya seperti dalam mimpi. Jika target itu aku anggap sebagai mimpi, lalu hari-hari ketika kita sedang menjalani mimpi-mimpi tersebut , akan disebut bagaimana? Mungkin boleh jika aku bilang, hidupku jadi seperti dalam mimpi.

Suatu ketika, aku mendapat tugas untuk mengikuti sebuah kegiatan forum diskusi bersama Quraisy Shihab. Aku, adalah penggemar beliau, mungkin bisa dibilang tokoh idola. Satu-satunya Dai yang aku sukai hanya beliau. Sangat umum bagi para penggemar untuk ingin bertemu dengan yang diidolakan, tentusaja. Termasuk aku. Dan ketika aku mendapat tugas untuk mengikuti forum diskusi bersama beliau. Sesuatu yang meilntas dikepalaku adalah aku akan bertemu, berada dalam satu meja meja, yang berjarak tidak lebih dari 4 meter dengan beliau! Tanpa aku harus berusaha!! Betapa  aku memang sedang berada di dunia mimpi sepertinya. Mimpi-mimpi itu sedang aku jalani!

Allah sepertinya sungguh sedang memberi nikmat padaku lebih-lebih. Aku berangkat ke tempat acara sambil bertanya-tanya, sungguh mimpi itu sebenarnya mudah. 

Tetapi ternyata Allah ingin mengajari untuk perlu banyak usaha untuk mewujudkan mimpi. Ketika aku sudah sampai di tempat pertemuan, 15 menit sebelum acara dimulai, pembawa acara menerima telpon dari Quraisy Shihab yang mengatakan bahwa beliau tidak bisa hadir karena harus menguji. Seketika aku tersenyum, ternyata aku masih di dunia nyata, belum menjalani hidup seperti dalam mimpi. Tak semudah itu..  :)

Rabu, 19 Desember 2012

Tak ada alasan


"Pulang!"

Senang sekali rasanya berkata besok jumat pulang, sementara sekarang adalah hari rabu. Rasanya jadi sangat bersemangat, dan ingin selalu tersenyum.

Tapi, temanku tiba-tiba berceletuk, "seneng amat yang mau pulang, mau apa sih? biar ketemu pacar yah?"

Bercanda sih, tapi membuat aku berhenti tersenyum dan berpikir. Rasanya nggak tega deh, membayangkan bapak ibu  yang sudah senang menyambut aku pulang, tapi pulangku itu demi menyambut pertemuan dengan yang lain. Pasti mereka akan kecewa.

Untuk hanya sekedar  pulang, perlukah alasan?

Kalau untuk di cari alasannya, pulang memang memberikan banyak tawaran. Mungkin aku bisa bertemu teman kecil di rumah, mungkin aku bisa tidur seharian, mungkin bisa bermain dengan sepupu. Tapi lebih dari itu, aku memang ingin pulang. Ingin menempati kamar tidurku yang jarang berpenghuni, ingin bisa sarapan, makan siang, dan makan malam dengan bapak ibu, ingin bertengkar dengan adik. Ingin sampai di rumah, membuka pintu dan berkata, " Ma, ari pulang!"

Itu saja. Tak ada alasan.

Senin, 05 November 2012

Cakra kesinambungan




Harus terpisah, Cakra Khan, mendengarnya pertama kali aku merasa tertampar, haha. Ada yang harus aku lepas memang, karena itu lagu ini menyadar kan ku memang harus memisahkan diri dari yang selama ini membebani hati. Tapi, bukan karena hal itu lagu ini menjadi bahasan panjang di kos kami.

 Lagu ini menarik bagiku, pertama karena penyanyinya mempunyai karakter suara yang mirip dengan Sandhy sandoro, si "Malam Biru" itu. Kedua, karena antara penampilan visual penyanyinya sangat berbeda jika dibayangkan dari suaranya saja. Aku kira akan menemukan manusia rock n rool disana, tapi ternyata melankolis rupanya. :D Dan yang ketiga, adalah liriknya. Sangat berkesinambungan!  Terutama jika dihilangkan bagian reff nya. Begini jadinya.

Sendiri,
Sendiri ku diam
Diam dan merenung
Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi
Pergi tuk menjauh
Menjauh dari mu
Darimu yang mulai berhenti
Berhenti mencoba
Mencoba bertahan
Bertahan untuk terus bersama ku

Bayangkan,
Bayangkan ku hilang
Hilang tak kembali
Kembali untuk mempertanyakan lagi cinta
Cinta mu yang mungkin
Mungkin tak berarti
Berarti untuk kurindukan
 
Haha, Good Job Cakra ! Menertawakan lagu ini seperti menertawakan diri sendiri. Terimakasih untuk menyanyikan lagu ini, aku tertawa, dan tertampar secara bersamaan. :)

Kamis, 01 November 2012

Pucuk Harapan


Pada setiap kuncup,benih, atau setiap yang sedang belajar tumbuh,  tersimpan harapan. 
Harapan menjadi dirimu yang sesungguhnya.

Adenium muda

Menjadi jeruk, bukan jeruk muda.
 
  
Menjadi Sawo. Tanpa embel-embel "muda".




Kamu yang muda, rapuh, akan kah dapat bertahan?
Siapkah kamu dengan datangnya hujan?
Akan kan hujan sekedar membasahkan mu?
Menyegarkan?  Atau membusukkan?

2 bulan lagi aku akan datang. Dua bulan lagi kita-akan sama-sama tahu, keadaanmu, keadaanku.
Apakah kita sama -sama membaik menyatakan sebuah harapan.


Kamis, 11 Oktober 2012

Fairy Tale


#tangled
 
I do like fairy tale, especially, the part when they said, "... then, prince and princess live happily ever after." as the closing of the story.

Sepertinya kehidupan manusia pun juga sunnahnya demikian pada akhrinya. Dalam hidup yang panjang itu, manusia akan bertemu dan dipasangkan dengan manusia lain, membangun keluarga, dan seperti dalam dongeng, mereka kemudian akan hidup berdua, bahagia, selamanya, hingga maut memisahkan.

Aku pun, sangat, memimpikan kehidupan yang demikian. Suatu saat nanti bertemu dengan seseorang yang seperti "pangeran", yang akan menemaniku. Cukup satu saja, satu yang pertama, yang terakhir, dan untuk selamanya selama raga masih bernyawa. Aku tidak ingin jatuh cinta dengan yang lain, "pangeran " itu saja. Tapi suatu saat aku terlalu terburu-buru sehingga aku menjatuhkan diri pada yang pertama, tanpa meyakinkan diri bahwa dia akan menjadi yang terakhir. Tentunya berharap yang sudah ada, tiada, sangatlah tidak mungkin.  Jadi dengan semua keterlanjuran yang sudah terjadi, aku hanya bisa meyakinkan diri bahwa tidak akan ada yang ke tiga, ke empat, dan seterusnya. Hanya akan ada nanti yang ke dua, semoga. Atau mungkin tuhan memperkenankan impian kecilku terwujud, maka tidak akan tidak mungkin untuk yang tiada itu akan kembali.
Waktu yang akan menemukan jawaban untukku.


" Setiap pertanyaan berpasangan dengan jawaban, untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan hanya waktu." Dee

Sabtu, 06 Oktober 2012

The Closed Book

Sebuah nama sebuah cerita, kalau itu judul album peter pan. Tapi jika bagiku, sebuah kota sebuah cerita.  Menurutku setiap kota membawa kenangan masing-masing untukku. Sekarang jika mengingat atau mendengar kata Purwokerto, seolah-olah telingaku langsung menangkap lagu Bowling for soup, "Highschool never end" di mainkan.

Lain lagi dengan semarang. Mendengar kata semarang, aku menangkap sebuah nama, sebuah cerita, dan sebuah kata. Muda. Di kota itu aku mendefinisikan diriku sebagai seseorang yang muda, mahasiswa, dengan segala atributnya. Aku merasa bebas, lepas. :D

Kebebasanku itu dibuktikan dengan banyaknya tempat yang sudah aku kunjungi, di bandingkan kota lain yang pernah aku tinggali.  Cepatnya aku menghafal jalan, sebagai bukti seringnya aku main di kota ini. Terlalu banyak waktu luang sepertinya. ^^

Karena tempat ini bersejarah, sepertinya aku ingin membuat memoar perjalananku selama 1 tahun 10 bulan di semarang. Bukankah tulisan dan gambar membantu kita untuk mengingat kenangan? Walaupun tidak lengkap, ini akan jadi pengingatku akan masa-masa aku menghabiskan waktu "dewasa muda"-ku.

Entah apa yang paling khas dari kota semarang, tapi aku mulai saja dengan ...
# si "seribu pintu"

## Lawang sewu

## Gereja Blenduk - kawasan kota lama


## Kawasan kota lama, Marba = Marabunta
## Tugu Muda

## Sam Poo Kong

##



Candi II Gedongsongo
"Umbul" Sidomukti
Pohon tahun baru Cafe Buket
Resto yang menyajikan makanan khas semarang, Bandeng Juwana 

 Dan, tempat yang paling sering aku kunjungi di Semarang setelah kos, kampus, dan mol (tentunya)..

Menara Masjid Agung Jawa Tengah
Malam hari di masjid agung
siang hari

menjelang magrib




Kututup buku perjalananku di kota semarang, kumulai ceritaku di kota baru.  

Imam syafi'i, salah seorang imam besar dalam islam berkata, 

"Orang berilmu dan beradab tidak akan diam dikampung halaman.  Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang.  Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa, Jika didalam hutan."



Sabtu, 09 Juni 2012

Ronggeng Dukuh Parukk


Hari ini karena memang aku tidak punya acara, akhirnya walaupun sedikit mengantuk pukul 14.00 tadi ak pergi ke salah satu Toko buku ternama, yaah, sebut ajalah, gramedia. Tujuanku, pertama ingin mencari buku-buku yang direkomendasikan oleh teman, dan melanjutkan membaca novel  yang ingin aku selesaikan tanpa membelinya ^^.

Sekitar 2 jam aku membaca, aku sudah bosan, akhirnya aku memilih berkeliling karena aku belum ingin pulang. Dari beberapa sampul buku yang menarik minatku, aku memilih mengambil Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel itu sekarang sudah memiliki design cover baru. Dulu, covernya bergambar gubuk dengan pemandangan desa dalam background merah, dengan tulisan Ronggeng Dukuh Paruk berwarna putih. Sekarang covernya sudah berubah, menjadi sepasang laki-laki dan perempuan beradu dahi berpelukan. Sang wanita itu,pemeran utamanya diperankan oleh aktris yang mondar mandir berakting di serial FTV, dan yang laki-laki diperankan oleh siapa -aku lupa namanya- tapi aku tahu dia aktor bagus yang berperan di  film Hari untuk Amanda, dan Ayat-ayat cinta, tapi tidak berhasil mendapatkan peran Fahri karena peran itu didapatkan oleh Fadli Nuril. Cover itu juga merupakan poster untuk film berjudul "Sang Penari" yang baru aku sadari ternyata dibuat berdasarkan novel Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Ngomong-ngomong soal novel itu, aku juga baru saja ingat. Sepertinya ketika aku SD,  Ronggeng dukuh Paruk bukanlah buku yang tebal, buku itu hanya setebal dan seukuran buku Iqra' . Bukunya berwarna ungu, gambar yang sama, dengan background kuning coklat, berbeda dengan buku yang beredar ketika aku SMA. Waktu itu, aku akhirnya tahu bahwa buku itu memang terdiri dari beberapa buku, yang kemudian menjadi salah satu buku dari trilogi Ronggeng dukuh paruk. Dan, buku itu lah yang aku pegang saat ini.

Buku tipis itu, aku lupa judul tepatnya, salah satu buku yang akhirnya digabung ceritanya menjadi satu buku  berjudul Ronggeng Dukuh Paruk adalah novel pertama yang aku baca, bukan karena tugas atau pun karena termasuk dalam pelajaran. Aku membacanya karena memang aku ingin. Ya, Ronggeng Dukuh Paruk. :D. Aku menemukan novel itu di lemari tua milik Om, yang memang sarjana pendidikan dengan jurusan Bahasa Indonesia. Usiaku saat itu, mungkin 10 atau 11 tahun. ^^,v

Menyadari buku itu ternyata novel pertama yang aku baca, aku langsung penasaran ingin menonton film  sang penari yang diadaptasi dari novel tersebut. Padahal aku sudah berulang kali melihat iklan penayangan film tersebut, tapi tak pernah tertarik.  Dan sekarang, film itu telah masuk dalam List Film yang harus aku cari. Siap-siap huntiiiiiing . :)

Jumat, 25 Mei 2012


Indahnya tidur karena kita bermimpi. :) Betapa hebat Tuhan kita itu, hingga menganugerahkan pada porsi waktu dalam sehari kita yang paling besar dan sepi itu dengan mimpi. Mimpi terkadang memang benar-benar bunga tidur. Tapi terkadang seringkali merefleksikan keinginan kita yang sesungguhnya dan sebenarnya -Our most sincere hope-melalui alam bawah sadar. Seperti mimpiku malam ini. 

I find my self wake up and smile. Hari yang indah akan dimulai setelah diawali dengan senyum sebagai penyemangatnya. Dalam mimpi saja sudah terasa menyenangkannya apalagi jika bisa menjadi kenyataan. 

Aku tersenyum dan menatap sekitar, mengingat masa hidupku 3 tahun terakhir ini. Masih ada sedikit harap, tangan Tuhan masih bekerja, dan mungkin untuk menyambungnya. Semoga. Beautiful dream, Brigther of the day. \(^^)/

Rabu, 28 Desember 2011

Seperti Cabut Gigi

Semarang, 28 Desember 2011, 22.54 WIB


Sungguh, kehilangan dan kegagalan, proses untuk melewatinya sangat mendewasakan. Kehilangan bisa dianalogikan seperti proses cabut gigi geraham. Ketika dicabut mungkin tidak sakit. Tapi terasa ada yang hilang. Tidak lama kemudian, baru sakit itu mulai terasa, menghentak-hentak sekali. Setelah sakitnya hilang, lidah akan bolak-balik mengecek pada posisi hilangnya gigi gerahamnya itu. Merasa gigi itu masih ada , tapi ternyata tidak ada. Memastikan ketidakberadaannya. Ada lubang disusunan gigi disana. Rahang kehilangan gigi gerahamnya. Seperti itu juga yang aku rasakan. Ada tempat yang seharusnya terisi, rasanya masih terisi, tapi ternyata sudah tidak ada.

Aku kehilangan.

Memang benar jika ada yang bilang, hal apa yang sangat tidak pasti di dunia ini? Itulah perasaan manusia. Justru semakin keras kita menggenggamnya, semakin kita menginginkannya, dia akan semakin terlepas, persis seperti menggenggam pasir.

Entah kenapa proses kehilangan itu berat. Mungkin karena ada bagian dari diri kita yang menolaknya, tapi kita memaksakannya untuk menerima. Seperti kebanyakan cara orang untuk melupakan perihal kehilangan itu, aku menjauhi semua aktivitas yang biasa aku lakukan tapi yang mengingatkanku padanya. Semua kenangan berusaha dihapus. Sebagian besar kebiasaan diubah. Hasilnya aku bukan diriku lagi. Mungkin itu yang menambah berat proses melupakan.


Tapi aku yakin, semua ini pasti berujung, suatu saat aku pasti bisa menceritakan ini dengan tanpa merasa menyedihkan, bahkan sambil tertawa. Saat itu pasti aku sudah lupa. Ya. Petaka yang tidak bisa diubah, obatnya adalah sabar dan lupa.

Belajar dewasa

Mungkin ini lebay ya, tapi aku merasa sangat kehilangan. Dia sebenarnya masih ada, dia tidak mati. Dia hidup disana dengan kehidupannya. Alamat kosnya masih sama, bahkan no hapenya jg sepertinya masih sama. Ak masih punya dan aku masih ingat no hapenya, rumahnya, kosnya. Hanya saja ak tak bisa menemuinya lagi skrg. Mungkin disitulah letak kehilangannya. Dia ada, dia bisa dijangkau. Tapi tidak bisa ak temui seperti biasanya. Seandainya mau ak pasti bisa melihatnya, tapi aku tak bisa.

Kota ini terlalu banyak memberikan kenangan tentang dia.
Dulu ketika masih kecil, jika kita ingin menemui teman, kita akan datang saja, tidak peduli kita habis bertengkar atau apa. Tapi sekarang ketika telah dewasa, manusia menjadi lebih rumit, lebih mementingkan harga diri atau apalah. Bahkan seperti sekarang ini, aku masih ingin menemuinya. Tapi karena ak sudah besar sekarang, aku tidak bisa menemuimu dengan alasan yang rumit.

Sebenarnya proses kehilangan, adalah proses pembelajaran yang paling baik untuk menjadi dewasa. Hampir sama dengan kegagalan.


Semarang, 14 desember 2011.