Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2015

Tawang mangu : sebuah memoar

Bulan ini kami sekeluarga akhirnya menyempatkan mengunjungi kembali kota tempat dulu aku dan adik menghabiskan masa kanak-kanak, Tawang Mangu. Kembali setelah lima belas tahun itu rasanyaa... takjub! Aku tersenyum-senyum sendiri ketika kami berjalan menuju rumah kontrakan kami dulu. Setiap sudut gang itu adalah taman bermainku dan Rafi dulu.  Entah bagaimana perasaan Rafi, karena katanya dia sama sekali tidak ingat lingkungan itu, hanya beberapa katanya.









Hampir semua dilingkungan ini masih sama, hanya berubah lebih bagus. Grojogan Sewu, Pasar tawang mangu, Toko Saya, dan terminal masih ada dan berubah lebih bagus. Aku mengingat Toko Saya karena setiap sebulan sekali bapak mengunjungi kami (Mama, aku dan Rafi) pasti  mengajak beli es krim di Toko Saya.  Toko bangunan disamping gang sudah berubah menjadi koperasi. Rumah-rumah disana hanya beberapa yang mengalami perbaruan, ada juga bahkan yang ditinggalkan. Dalam perjalanan beberapa tetangga mengenali kami, mengenali Mama tentunya, sebagian besar sudah lupa wajahku dan Rafi  (tentu saja, aku Rafi umur 11 dan 3 waktu itu, muka kami pasti berubah). Cerita mengalir tentang bagaimana kami dulu, keseharian kami dan hal-hal yang berkesan yang masih teringat sampai sekarang. Tentang beberapa teman yang sudah pindah dan kemudian eyang-eyang yang sudah meninggal.  Aah... Jadi begini rasanya reuni setelah bertahun-tahun tak bertemu dan tak ada komunikasi.


"Aku nggak inget apa apa, mbak, tapi nggak tau seneng rasanya hari ini" kata Rafi. Ya, aku pun senang. Tawang mangu menempati sudut tersendiri di ruang memori. Selamanya akan selalu teringat sebagai tempat bermain selama 4 tahun yang menyenangkan. Kami punya sodara jauh yang masih mengingat kami betapapun lamanya kami tak kembali.

Eh, Perjalanan itu juga mengingatkanku dengan waktu yang sudah berlari secepat pertumbuhan tinggi Rafi yang dulu hanya setinggi pusar. Juga usia Bapak dan Mama yang sampai setengah abad tahun ini.



Terimakasih Tuhan, kami masih bisa bersama seperti ini. Semoga bisa bersama seterusnya, dan bapak mama mendapat semua yang masih menjadi keinginan beliau di usia mereka yang mencapai angka 50 ini.


*ditulis pada hari ulang tahun bapak, 24 Mei

Minggu, 03 Agustus 2014

Waktu

Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet, elastis. Tergantung dari siapa yang merasakannya, sedetik rasanya bisa seperti satu tahun, satu tahun bisa terasa seperti hanya satu kedipan.

Karena waktu itu terus saja berjalan -dengan atau tanpa kehendakku- kadang aku sendiri sering tidak merasakan nilainya waktu. Maka dari itu mungkin ada anonim yang menulis tentang nilai waktu. Katanya, untuk tahu nilai 1  tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kelulusan. Untuk tahu nilai 1 jam, tanyakan pada kekasih yang menanti waktu untuk bertemu, dan untuk mengetahui nilai 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.

Ya, waktu itu berharga, ditiap menit dan detiknya. Pak ustadz kemarin juga berkata, jangan pernah berkata ingin menghabiskan waktu, karena waktu itu akan benar-benar habis, hilang dan tidak bisa diganti, maka manfaatkanlah.

Omong-omong soal manfaat waktu, menurutku bayi dan kanak-kanak lah yang paling pintar memanfaatkan waktu. Lebaran kemarin, aku bertemu Tata, sepupu, umurnya 1 lebih. Sekitar 2 ato 3 bulan yang lalu, Tata masih baru belajar melangkah (belum berjalan). Bergerak dengan iming-iming mainan yang dipegang ibu, ayah atau kakaknya. Kata yang terucap juga baru mbah, mbak, dan ucapan tak jelas. Dua bulan berikutnya, yaitu sekarang. Dia sudah lincah berjalan, tanpa bimbingan. Kata yang diucap juga sudah Bu dan lebih banyak. Selama 2 bulan itu dia menjadi pembelajar ulung, memanfaatkan waktunya untuk memulai cikal bakal mandiri dan membuka jalur komunikasi, dengan berjalan sendiri (literally).

Lalu, diwaktu yang sama, bagaimana denganku?

*hening*

Eh, dalam heningpun ternyata memakan waktu.


***

Lucu maksimal!



This little cute boy, is a gag actor. He deliver his cuteness with his funny way to easy get confused dan forget all things. Even for simple question like, "Vano, sampun papung dereng?". He get confused and ask his friend, "Dede (he call himself) si wis papung urung?"

Gubrak! *emot ketawa guling-guling*

Kamis, 17 Juli 2014

Surat untuk mu, Sahabat


Berteman dengan mu selalu menyenangkan. Aku ingat, suatu  ketika sedang suntuk tiba-tiba kamu memberi solusi mengajakku ketempat dan melakukan hal yang sangat aku suka, ke pantai dan melihat senja. Untuk bepergian dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, caramu mengajak seperti pergi ke warung membeli jajan, kepikiran dan langsung jalan. Aku ingat bahkan tak salah satu dari kita yang memakai jaket.

Betapa beruntungnya aku, langit yang  mendung saat itu, ternyata setengah jam menjelang terbenam matahari langit barat bebas awan. Senja sore itu, langit barat jingga merona dan aku hanya bisa tersenyum ternganga melihatnya. Kutoleh langit timur, kearah pandanganmu, dan kulihat pelangi. Aku hari itu bagai anak kecil yang dibelikan permen. Senang. 

Kapan hari lagi, begitu lagi, senja atau waktu lain, tempat sama atau tempat yang lain. Tak terasa terkumpul banyak folder file foto, yang jika aku ingat dengan siapa, maka jawabannya adalah denganmu waktu itu aku habiskan.  
 
Kemudian, suatu saat pernah kau utarakan tentang suatu kekhawatiran. Karena katamu tiba-tiba terpikir olehku, jangan-jangan, nanti akan ada lebih banyak kenangan seperti senja saat itu denganmu dibandingkan dengan suamiku kelak.

Maka, selain seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ini lah sebenarnya alasan yang paling jujur dari sikapku yang mungkin kau anggap sebagai perubahan. Lalu sekejap saja rasanya, semua memburuk seperti sekarang. Dan aku kini... tak tahu harus bagaimana.

Selasa, 15 April 2014

Rinda's Junior

 
One fine day in Kebumen. Seeing friend, and her junior. I do realize, time would never go back. Kebumen, 12-04-2014


Rasanya masih sama seperti baru dua atau tiga hari tak bertemu. Persis jika aku main kekosnya atau dia main ke kosku. Seperti baru kemarin, wisuda diploma kemudian kami sama-sama melanjutkan di Diponegoro Semarang. Mengerjakan tugas kelompok, main bersama, aerobik kemudian lanjut masak-masak bersama di kos. Hingga kemudian aku wisuda, selanjutnya aku mendatangi wisudanya, dan ternyata itu adalah kali terakhir kami bertemu.

Kemudian banyak episode hidupnya yang aku lewatkan, pernikahannya yang bertepatan dengan tugas kerjaku,  kemudian kelahiran juniornya beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku punya kesempatan menemuinya lagi kemarin, setelah 2 tahun. Tapi rasanya masih tetap sama, kami masih masak-masak bersama, ngobrol dan curhat. Namun yang berbeda sekarang ada celotehan kecil yang ikut-ikut menyahuti ketika kami tertawa, atau meminta perhatian ketika kami terlalu serius mengobrol. Wohoo.. Selamat datang Arsya, semoga silaturahmi bunda dan tante akan selalu terjaga. :)  

Arsya Ghifari Al Mubarok


Kamis, 02 Januari 2014

Welcome 2014

Yang lalu biarlah berlalu
Hehe, sepertinya akan aku perlakukan begitu saja tahun 2013 yang telah berlalu. Yang jelas, banyak perpindahan yang aku alami tahun itu, menjadi mahasiswa lagi, berpindah ke tempat baru lagi, Yogyakarta, (akhirnya!) dan yang lebih melegakan hatiku juga mulai berpindah sepertinya. (^,^) #abaikan

Aku tak ingin memulai tahun kuda ini dengan terlalu banyak resolusi, aku ingin agar semua berjalan mengalir saja. Hanya berharap semoga apa yang sedang dijalani berjalan lancar dan sesuai rencana, berharap kesehatan untuk bapak, ibu dan rafi, dan semoga ada banyak kejutan menyenangkan tahun 2014 ini. Ah iya, semoga tahun 2014 ini aku lebih sehat, heran, akhir tahun kemarin aku tutup dengan rekor sakit sampai 4 kali dalam 1 bulan. Sehat sungguh sangat berharga.

Dan lagipula, libur semester pertamaku ini juga baru dimulai, masih ada 3 minggu menanti untuk dimanfaatkan. Selamat awal tahun semua!!  :)


Senin, 16 Desember 2013

Reminder #2

Suatu siang dari sebuah rumah di Jalan Percetakan negara IV C no 10, setelah (sesuatu yang kusebut) bersosialisasi. Bermain ke kamar teman untuk mengobrol. Aku kembali ke kamarku yang berada di lantai dua rumah itu, masih menaiki satu persatu anak tangga, ketika aku terpikir untuk mengatakan ...

"Mbak, kalo bisa kamu nikah dalam dua tahun kedepan yah? Pumpung aku masih di Jogja"
Temanku yang sedang berjalan menuju kamar mandi itu diam sesaat,
"Ngapain dua tahun? aku bakal nikah tahun depan, haha"

Kami menertawai ke-PD-annya berkata demikian padahal saat itu dia baru saja 'putus', tapi tentu saja kami mengamini. :)


***

Sekitar enam bulan setelah siang hari itu. Empat bulan setelah aku pindah ke Yogyakarta, aku menghadiri sebuah acara teman. Tuhan memang menjawab semua doa, perkataan, mungkin juga pikiran kita yang hanya besitan sebuah harapan, dengan caraNya.

Happy "lamaran" mbak, seperti doa mbak pris, semoga lancar sampai hari H. :)


Senin, 25 November 2013

Goodbye Jakarta, Welcome Jog-Jakarta




dalam salah satu surat kabar nasional

Berbicara tentang jakarta :

Katanya, Jakarta itu lebih kejam dari pada ibu tiri
Katanya, Jakarta hanya menjadi tempat mencari penghidupan, bukan yang dapat memberi arti pada penghuninya.
Katanya, Jakarta itu kota yg keras, tapi banyak orang sukses hidup disana.
Katanya, angin bertiup disana mengatakan kamu bukan orang Indonesia jika belum pernah kesana.

Banyak yang memberi opini tentang Jakarta, sehingga sepertinya image yang terbangun untuk yang belum pernah kesana, mengenal Jakarta sebagai kota kejam, keras, penuh persaingan, tetapi memiliki magnet besar untuk membuat orang semua datang dengan janji kesuksesannya.

Bicara soal janji kesuksesan, memang Jakarta menawarkan banyak kesempatan lebih dari kota manapun. Membukakan mata bahwa sesuatu yang kita impikan, yang kita inginkan sebenarnya sangat mungkin untuk kita gapai. Kesempatan itu bisa dicari untuk mencapai kesuksesan yang diingini.

Disisi lain, Jakarta mungkin memang keras, beberapa penghuninya begitu individualis hingga bahkan untuk bisa duduk di kursi busway saja harus berebutan. Atau mungkin banyak yang skeptis, sampai ada yg sampai pura-pura menutup mata jika ada orang tua yang tidak mendapatkan tempat duduk. Laki-laki bisa santai saja duduk meskipun melihat ada perempuan dihadapannya berdiri sepanjang perjalanan yang waktunya berlipat karena macet.

Tetapi, dalam sesak dan sempitnya busway, aku masih menemukan orang yang rela menawarkan pegangan tangan untuk kupakai sementara dia sendiri akhinya harus bersusah-susah berpegangan pada atap bus.  Katanya di Jakarta jangan percaya pada orang asing, tapi bahkan aku menemukan teman untuk cost sharing taksi karena terburu-buru mengejar waktu sementara kami memang searah. Katanya, jangan berbicara dengan orang asing, tapi bahkan aku banyak menemukan teman satu daerah yang juga sama-sama mengadu nasib disana, hanya dengan mencoba berbincang-bincang.  Katanya jakarta panas, tapi bahkan jalan setiap aku berangkat dan pulang sebegini rindang.

Percetakan Negara IV
Mungkin, suatu kota itu hanya tergantung bagaimana kita memandangnya, bagaimana kita mempersepsikannya dalam benak, sehingga begitulah yang akan kita lihat sehari-harinya. Oleh karena itu banyak teman kulihat yang merasa nyaman-nyaman saja dengan berdesak-desakan begitu, bisa saja berdamai dengan macetnya, dan hanya merasa biasa saja untuk berangkat pagi dan pulang larut malam. Untuk akhirnya dilampiaskan dengan liburan diakhir pekan, dan pergi keluar dari Jakarta, bersenang-senang, dan kembali lagi dihari kerja, seperti tidak terjadi apa-apa.

Diluar keputusanku untuk tinggal, atau tidak tinggal di Jakarta, ingatanku hanya menyisakan memori tentang kesenangan tinggal disana. Teman-teman yang menyenangkan, rumah kos yang sudah seperti keluarga, dan suasana yang tidak membenarkan tentang anggapan banyak orang. Memang benar jika Jakarta itu macet, Jakarta itu banjir, tapi mungkin setiap kota besar pasti akan punya masalah, dan Jakarta? yah... mungkin memang begitu keadaannya. Sehingga pilihan lah yang paling menentukan, apa yang paling diinginkan, yang membuatku  memutuskan, untuk meninggalkan Jakarta.

***

Sekarang, disinilah aku, menambahkan tiga huruf didepan kata Jakarta,  menjadi Yog-Jakarta (hehe). Mesikpun dimulai dengan beberapa kegalauan, kerinduan pada Jakarta, dan keterkejutan tentang kota ini, aku menikmati tinggal disini.  Diawal perjumpaan saja, kota ini sudah mempertemukan aku dengan banyak nostalgia. Aku yakin, kota ini juga akan memberikan kejutan untukku pada dua atau banyak tahun seterusnya. Di kota yang berhati nyaman, kota tempat bapak dan ibu bertemu, sepertinya aku juga berharap untuk menemukan hal yang sama. :)

Meskipun sepertinya sudah sangat terlambat, tapi aku ingin mengucapkan untuk diri sendiri, "Selamat datang di Yogyakarta.."

Minggu, 27 Oktober 2013

Kangen! Masih Boleh kan?


Teman itu seperti bintang, kadang terlihat, kadang tidak, tetapi kita tahu mereka ada disana 

~Confeito



Lima puluh delapan hari! Ya, hampir dua bulan sudah, aku pindah ke Yogyakarta. Meninggalkan Jakarta saja tentu akan sangat lebih mudah dari pada ketika harus meninggalkan teman-teman yang ada disana. Masih sering aku terbangun di pagi hari,  terduduk di tempat tidur dan tiba-tiba sangat merindukan teman-teman dan suasana disana. Kemudian terakumulasi, dan sungguh aku rindu kalian!

Tetapi mau bagaimana  lagi, hidup ini memang seperti perjalanan. Berpindah-pindah dari jalur satu ke jalur lainnya. Mungkin disuatu saat kita beriringan, berlawanan arah, mungkin juga bersinggungan dan beririsan. Kebetulan persinggungan  kemarin itu adalah sebuah kotak transit raksasa bernama Jakarta. Meski kadang zona nyaman itu melenakan, tapi kita tetap harus melanjutkan perjalanan bukan? Aku berjalan  kesini, kalian kesana, jalan itu akan terpisah, dan berbeda arah, entah dimana akan bersinggungan lagi.

Maka, alih-alih selamat tinggal, aku lebih senang mengatakan sampai jumpa. Sampai  berjumpa lagi kawan, sampai jalan kita dipersinggungkan kembali, sampai hidup kita beririsan lagi...
#abegekeppoh*

#tenants cwawakan*
Tim Hore IBI


PS: Kangen banget! Masi boleh kan ya? T.T

***
*dinamakan seperti nama group dalam WA

Selasa, 24 September 2013

Mahasiswa lagi


Sudah sejak awal September ini perkuliahan dimulai, tapi hingga saat ini, aku belum merasa bahwa aku kembali memasuki dunia perkuliahan. Aroma perkuliahan sebenarnya langsung tercium ketika memasuki gerbang kampus dan melihat lorong-lorong penuh mahasiswa. Tapi, rasanya masih terkaget-kaget kalau ternyata terlalu banyak yang sudah aku lupa, masih banyak yang harus dipelajari kembali. Kemudian bertemu tugas-tugas, yang membuat harus belajar lebih banyak lagi. 

Entah kenapa, rasanya aku belum bisa fokus disini. Rasanya mindset di otakku belum mengatakan kalau aku sedang bersekolah lagi. Hingga tadi siang, Ketua Minat di program studi yang aku ambil, memasuki ruang kelas. Beliau mengatakan  selamat datang, capailah suatu tujuan. Jika anda belum memiliki tujuan, maka saat ini adalah saatnya anda menentukkan arah tujuan tersebut.

Ucapan beliau mengingatkanku, tentang alasanku kembali ke bangku ini. Aku tak tahu apakah nantinya jalan ini akan mengarah pada tujuan seperti yang sudah direncanakan. Tapi aku yakin, satu langkah kembali kebelakang ini, merupakan landasan untuk melanjutkan beribu langkah kedepan.

KIA-KR 2013 in Outbond

Bersama mereka kumulai lagi sebuah perjalanan. Bersama-sama untuk menemukan hal baru, belajar memahami, dan melakukan sesuatu yang positif untuk diri  bahkan mungkin untuk bangsa ini.

Kuucapkan pada diriku sendiri, "Selamat menjadi mahasiswa (lagi).."

Rabu, 10 Juli 2013

Tanpa Judul


Salam, salam, salam,

Terimalah salam dari kami, yang ingin maju bersama-sama..

 

400 anak dari usia 3 hingga 8 tahun memasuki ruangan, bersama-sama mereka menyanyi syair tersebut, suaranya bergema memenuhi ruangan, membuat bulu kuduk meremang, bukan karena takut tapi takjub.  Suara mereka membuatku merasakan aura ... apa ya? aura takjub dan semangat mungkin. Para tamu undangan lain sibuk tertawa senang dan memberikan tepuk tangan, tapi aku? Tersenyum pun tak bisa, aku sibuk menahan diri agar tidak menangis! Entah kenapa rasa haru muncul memenuhi kerongkonganku sehingga mataku berbayang penuh air mata. Tapi aku tidak ingin menangis di tempat ramai seperti ini. Ah, kenapa ya, aku cengeng sekali, hal begini saja membuatku ingin menangis.
 
Pernah dilain kali, aku menonton film garuda di dadaku dan King bersama rafi, aku pun tak bisa menahan untuk tidak menangis saat melihat tokoh utama mendapat semangat luar biasa cinta pada tanah airnya, lagu garuda di dadaku bergema, kemenangan yang dipersembahkan untuk negara. Hal begitu membuatku menangis terharu. Rafi, adikku, menertawakanku.

Sepertinya, jika sudah menjadi ibu nanti, mungkin aku adalah tipe ibu yang tidak akan bisa berkomentar, dan hanya bisa menangis jika melihat anakku sekedar tampil di panggung, membaca puisi, atau menyanyikan 'You are my everything'. Haha, payah sekali.

Entah, patriotisme over dosis, atau terlalu cinta pada anak-anak, atau memang karena cengeng, aku menangis pada hal yang orang lain umumnya tidak akan menangis jika melihatnya. 

Datang ke sebuah acara AICINDA  (Anak Indonesia Cinta Damai) adalah sebuah kebetulan yang mengingatkanku pada kebiasaanku yang 'aneh' ini. Acara yang aku datangi setengah hati hanya karena aku tidak menemukan alasan, untuk mengatakan tidak bisa datang. Hingga akhir acara, aku masih sibuk bertepuk tangan sambil sedikit mengusap air mata. :' )


Minggu, 07 April 2013

Mungkin

Mungkin,

Tuhan memberikan manusia
dua mata, dua telinga
dua tangan, dan dua kaki
dibanding satu mulut,

Agar kita
lebih banyak melihat, mendengar
bertindak dan bergerak
dibandingkan hanya berbicara.

***

Kamis, 21 Maret 2013

Reminder

Sebuah pameran foto di Solo Grand Mall, pada suatu waktu setelah menghadiri pernikahan teman




Hari ini awalnya merupakan hari yang biasa, sebagaimana layaknya rutinitas hari kerja. Hingga temanku, yang sudah menikah, yang usianya 1 tahun lebih muda dari ku, mem-forward sebuah artikel yang dia baca.

"Ini cocok buat mbak Ari baca nih.." ujarnya.

Intinya, artikel itu bercerita tentang seorang pemuda yang masih kuliah dan bekerja sambilan yang memiliki niat untuk menikah. Tidak diperbolehkan orang tuanya menikah karena alasan ekonomi, tetapi dia berkeyakinan dia merasa sudah mampu untuk menikah. Bukan karena sudah ada pasangan yang memintanya tetapi karena ia rasa sudah saatnya. Hingga ia akhirnya mendapat restu orang tua, menemukan pasangan yang cocok, akhirnya dia menikah dalam keadaan kekurangan, terus sampai hidupnya sudah mapan memiliki anak dan pekerjaan yang tetap. Asal ada niat, bisa. Begitu pesan yang aku tangkap.

Selesai membaca, aku hanya menoleh dan tersenyum.

Kemudian siang berlalu, menjelang sore aku ke dapur, mendapati bapak, salah satu karyawan yang berusia seumur bapakku, berkata "Biar cepet ketemu jodoh yah?" sebagai balasan ketika aku berkata aku sedang berpuasa hari ini. Wah, kembali ke topik ini. Kemudian Bapak tersebut bertanya umurku (yang kemudian aku jawab 24), dan mengatakan umurku sudah sewajarnya untuk menikah. "Puasa yang rajin mbak, biar dimudahkan" bapak itu menambahkan.

Kembali ke mejaku, aku ingat tadi siang aku mengunjungi sebuah blog, yang oleh penulisnya di khususkan untuk bercerita tentang persiapan pernikahannya. Kebetulan aku adalah pembaca setia blog nya yang lain secara diam-diam. Aku sangat kagum pada kehidupan penulisnya yang lahir di tahun yang sama dengan kelahiranku, tetapi sudah mencapai banyak hal yang hingga saat ini aku pun masih mengeja bahkan hanya untuk mengatakannya.

Membaca perjalanan hidupnya saja sudah begitu menyenangkan, dan sangat menarik, aku sangat penasaran bagaimana rasanya jika menjadi tokoh yang menajalaninya. Hingga kemudian hari ini, aku menemukan jurnal khususnya (dan pasangannya) yang menceritakan tentang persiapan pernikahannya. Pasangan Arsitek dan Perencana tata kota. Bahkan dari kartu souvenir dan undangannya pun mereka design sendiri, nyeni, dan filosofis. Ada alasan dalam setiap pemilihan. Bagus dan unik. Sebagai catatan dia menambahkan list yang harus dilakukan H-365 yang harus dilakukan menjelang pernikahan. Persiapan acara pernikahan itu sudah dimulai 1 tahun sebelum hari pernikahan meraka. Wow.

Maka, aku menafsirkannya begini, bahwa : butuh waktu jauuuh lebih dari 1 tahun untuk menentukan menikah. Persiapan acara pernikahan saja sudah  butuh waktu 1 tahun, belum dihitung persiapan diri, dan waktu untuk menemukan pasangan yang dirasa tepat. Sehingga  sepertinya jika diterapkan padaku -yang persiapannya masih dari sangat nol (baru mulai mencari pasangan yang tepat)- maka secara hitung kasar manusia, akan terjadi setelah jangka waktu sekian, yang mungkin bisa dikatakan lama. Huaaa *berteriak dalam hati* :D

Menikah, bagiku adalah sebuah kata manis, yang tentu saja aku inginkan. Tapi pernikahan adalah sebuah perjanjian besar antara sepasang hamba Tuhan dengan Tuhannya. Sehingga dengan menikah genaplah Agamanya. Menikah tidak bisa sebagai ajang percobaan, sehingga diputuskan dalam waktu sangat singkat, tetapi aku rasa juga bukan hal yang terlalu sulit hingga butuh persiapan waktu lebih dari 1 tahun bahkan hanya untuk persiapan acaranya.

Hal itu lebih seperti misteri, tentang bagaimana caranya,kapan waktu nya, dengan siapa. Komitmen besar pada diri sendiri, akan bersama dengan satu orang, itu saja hingga akhir hayat. Dengannya akan menghabiskan masa senja, dengannya membesarkan anak-anak, dengannya meraih mimpi-mimpi yang belum terlaksana, merasakan gelombang kehidupan, menerima kekurangannya, bahkan hingga belajar menyukai kebiasaan buruknya.

Dan hal tersebut tidak bisa diawali dengan niatan karena sudah malas sendiri, biar ada yang memperhatikan, karena sudah malas mencari yang lain , dan sederet alasan yang mengindikasikan malas dan kepasrahan lainnya. 

Aku ingin ketika aku memutuskan untuk menikah nanti, karena aku yakin, inilah saatnya, bahwa dia memang membutuhkan aku sebagai pelengkap hidupnya. Dan, untuk sampai pada saat itu, aku juga tidak yakin akankah membutuhkan waktu dalam hitungan tahun, atau mungkin secepat terbit dan terbenamnya matahari. Tuhan yang lebih tahu.

Jadi, tentang hari ini ...
Menikah? Okey, I'll take it as reminder.  *senyum*

 ***


Sembari menunggu waktu berbuka, 21 Maret 2013.