Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2013

Dibuang sayang


22 Juni 2013
Ketoprak monas

Mengingatkan dengan big ben
tengah kota
Hujan dan belimbing depan kamar

Tentu saja, antri!
lele saus padangnya enak! :)
 


Jumat, 27 September 2013

Belajar di Jakarta

Yang paling tidak bisa kuhadapi selama tinggal di Jakarta, adalah Macet! Pernah suatu ketika terjebak dalam kemacetan perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang memakan waktu hingga 7 jam padahal seharusnya bisa 3 jam. Aku sungguh ternyata bukan orang yang bisa bersabar. Kutempelkan wajahku sedekat-dekatnya dengan kaca pintu karena bosan. Kemudian kulihat dengan malas orang-orang berlalu lalang dijalan, ternyata masih ada yang sempat berjualan bunga. Ya. Bertangkai-tangkai bunga mawar merah yang sedang di tawar-tawarkan termasuk kepada supir mobil yang aku tumpangi.

Kemudian salah satu atasanku, berceletuk bercanda "Dek, aku kasih kamu satu bunga, tapi sabar  deh ya, memang lagi macet" dengan logatnya yang ke-batak-batak-an.

Aku tersenyum dan mengalihkan pandanganku dari jendela, aku jadi menyadari, atasanku sedari tadi sama sekali tidak mengeluh dengan kemacetan ini. Tidak pula terlihat jenuh, atau kehilangan mood dengan kemacetan ini. Padahal aku tahu setelah dari Bandung itu, beliau harus sudah berada di suatu tempat pukul 16.00 WIB, dan saat itu sudah pukul 17.00 WIB, tambah lagi kami terjebak kemacetan sehingga mobil hanya bergerak 20 Km/jam.

Beliau sibuk mengerjakan tugasnya dismartphonenya, dan sesekali menelepon orang jauh dikota lain sana, hanya -h a n y a- untuk memberi semangat. Aku, selama berada di Ibukota, sungguh takjub dengan  ibu-ibu atasanku itu. Entah energi dari mana yang membuat mereka bersemangat untuk memperjuangkan sesuatu  yang (menurutku) sudah tidak ada hubungannya dengan mereka. Dimasa usia mereka yang sudah senja, mereka tidak memilih duduk menimang cucu, bersantai-santai di kebun rumah mereka yang luas. Mereka memilih aktif di Organisasi ini, merelakan waktu mereka untuk habis di perjalanan menuju tempat sana sini untuk menghadiri pertemuan, mendiskusikan sesuatu, memperjuangkan Bidan padahal mereka saat ini sudah tidak akan berdinas lagi sebagai bidan. Katanya mereka berjuang demi bidan agar setara dengan profesi lain. Entah mungkin aku yang terlalu naif tidak bisa melihat dimana mereka meletakkan kepentingan mereka sehingga mereka mau sedimikian berlelah-lelah berjuang demi profesi ini. Tetapi aku sungguh kagum dengan semangat dan tenaga mereka diusia yang sudah terbilang senja.

Mereka sudah beradaptasi dengan baik dengan kota Jakarta ini, menjadikan Jakarta yang macet menjadi teman dalam perjalanan sehari-hari mereka yang padat jadwal. Bersama dengan Jakarta ini mereka menemukan kesuksesan mereka di bidangnya. Sedikit yang aku tahu tentang pengambilan kebijakan di negeri ini, di tingkat pusat, yang dapat memberi pengaruhlah yang dapat bergerak menentukan kebijakan yang mengikat orang banyak itu. Terlepas dari apa motif dan kepentingan mereka, aku hanya ingin mengingat semangat dan daya juang mereka yang perlu aku teladani. Mungkin seperti itu lah yang akan terjadi jika kayu bersambut dengan api. Passion yang menemukan jalannya, berbuah kecintaan yang total pada pekerjaan yang dikerjakannya, bahkan sampai tua.

Dan tak kupungkiri, jika saja aku tak ke Jakarta yang macet itu, mungkin aku tak akan belajar tentang hal ini. Ya, sebelum aku lupa tentang kota itu, aku ingin mengenang semua pikiran yang sempat terlintas selama aku menjalani hari-hariku disana. Sebagai jawaban pertanyaanku yang lalu, untuk apa aku harus berada di Jakarta.

Minggu, 23 Juni 2013

Sabtu Tidak Jelas : Berbuah Kawan


"Kata temenku besok Sabtu ada Food Fest di Monas" temanku berkata melalui pesan singkat.

Percaya saja, kami berempat semangat pergi ke Monas, pumpung libur dan memang tidak ada acara. Bahkan temanku sengaja menunda kepulangannya ke Bogor agar bisa ikut bersama ke Monas Sabtu itu.

Hari itu, Sabtu, 22 Juni, ulang tahun kota Jakarta, hari itu Busway gratis, kami ingin mencobanya. Sampai di halte Salemba UI halte cenderung sepi, wah kami semangat, sepi ternyata. Kami naik bus jalur Kampung Melayu, untuk transit di Halte Pasar Senin menuju Monas. Perjalanan lancar hingga di halte Pasar Senin ternyata arah Harmoni-Ancol antrian mengular. Kira-kira lima menit bus yang ditunggu datang, wah, penuh sesak, hanya beberapa orang yang bisa masuk. Bis berikutnya kembali datang lima menit kemudian, dan lagi-lagi penuh. 

Panas dan gerah, aku kemudian bercerita "Pernah aku mau pergi ke kawasan Sudirman, berencana naik busway. Sampai di halte transit pertama (Perjalananku waktu itu harus transit dua kali) Bus nya tidak segera datang, antrian padahal sudah panjang, dan aku harus sampai disana Pukul 14.00 tetapi pukul 13.20 aku masih belum mendapat bus, akhirnya aku turun dari tempat antrian ditepi jalur busway itu langsung menghentikan taksi, dan sudah, akhirnya naik taksi."

"Ayolah, naik taksi aja" kata teman-teman. Haha, akhirnya kami batal naik busway, keluar dari halte dan langsung naik taksi. Sedari awal memang lebih mudah naik taksi, dekat, dan kami juga berempat, biayanya akan sebanding dengan naik busway. Hanya karena ingin mencoba Busway gratis, di hari ulang tahun jakarta, kami berjuang dalam antrian, toh akhirnya tak sabar juga. :D
'Sempat' naik bus way gratis
Kurang dari setengah jam, kami tiba di Monas. Dari kejauhan Monas tampak sepi-sepi saja, memang terlihat ada beberapa tenda putih, tetapi kurang ramai jika memang ada festival, kami masih berpikiran positif. Sampai disana, aktivitas disana tak seberapa. Tapi kami belum menyerah, barang kali tenda disana memang berisi stand-stand makanan. Semakin mendekat, tenda-tenda itu kosong. Memastikan, kami bertanya kepada salah satu penjual makanan. 

"memang nggak ada mbak, cuman ada pameran Monorel di dekat Gambir, itu pun dibuka masih nanti sore" Haha, Tet Toot!! Memang tidak ada! :D Kami yang sudah berharap akan mencicip makanan, dan lapar, akhirnya memutuskan untuk makan di Stasiun Gambir, dari pada harus kembali ke kos tanpa melakukan apapun kan? Haha, benar-benar hari yang tidak jelas.

Siang itu kami lanjutkan dengan sholat di Istiqlal, karena kami masih belum ingin pulang. Beruntung dalam perjalanan ke Monas, kami melihat ada pameran yang cukup menarik untuk di kunjungi.
Haha, akhirnya! Akhirnya jalan-jalan hari ini bertujuan jelas. Dimana?
Pameran flora fauna 2013
Yap! di lapangan Banteng
Dan, hari itu berakhir dengan aku mendapat teman kamar baru. 

Welcome to this cute "little things"

Selasa, 18 Juni 2013

Move 'without' On

Menurutku, aku  termasuk orang yang setia pada pilihan pertamanya sendiri. 

Terutama dalam memilih tempat tinggal (baca: Kos, baca : kamar kos). Dulu, tiga tahun di Purwokerto, aku menetap di tempat yang sama tidak pindah, padahal tempat kosku saat itu bisa dibilang jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.  Tiga tahun di Magelang, aku pindah satu kali, itu pun juga karena satu hal yang mengharuskan pindah, tempat kos akan direnovasi.

Rekorku adalah di Semarang, dua tahun di Semarang, pindah dua kali, yang berarti 3 kos aku tempati. Dan sekarang, karena satu dan lain hal, aku diharuskan pindah kamar. H-a-n-y-a pindah kamar, dan keenggananku setengah mati. Sampai hari itu juga yang akan menempati kamarku datang, aku baru berkemas dan memindahkan barang. Rasanya sungguh malas berkemas. Karena bagiku berkemas hanyalah pada saat aku akan meninggalkan rumah (berpindah ke kota lain), dan kemudian saat aku harus berpindah dari kota itu karena tugasku disitu sementara sudah selesai. Jadi berkemas itu membutuhkan effort yang besar untukku. Yah, mungkin, setia itu hanya berbeda tipis dengan malas, dan enggan. (Hehe)

Menurutku setiap tempat yang telah kita tinggali itu seperti telah memiliki aura kita.  Ada sebagian jiwa kita yang tertinggal disana, sehingga setiap berada di tempat tersebut kita merasa nyaman. Aku sering merasakan sensasi nyaman itu jika bepergian dari arah jogja atau Solo ke rumah, maka ketika aku sudah tiba di Purwokerto, meskipun masih tersisa beberapa jam perjalanan, aku sudah merasa nyaman dan 'aman'. Kalaupun ada suatu kejadian yang membuatku harus berganti-ganti kendaraan disini, aku tidak khawatir, karena aku mengenal kota ini, begitu pikirku.

Begitu pula kamar, menghadirkan rasa nyaman, dan terasa seperti rumah itu membutuhkan waktu lama.  Karena di kota perantauan tentu saja hanya kamar itu yang bisa dianggap hak milik dan aku sebut 'rumah' sebagai tempat kembali. Karena itu ketika aku lelah, yang terbayang olehku 'masih' kasur dan kamarku yang dulu.

Yah, tapi tak ada yang salah dengan tempat baru. Setidaknya disini aku bisa punya jendela, bisa mendengar suara kicau burung dipagi hari, walaupun disela suara riuh rendah bunyi kendaraan di kejauhan. Dan, setidaknya bisa mengintip suasana pagi kota jakarta yang sebelumnya tidak kudapat dari kamarku dulu.

Pagi yang mengintip dari jendela
Okey, Selamat pagi! Hari ini aku harus berangkat lebih pagi, dan  akan menjadi bagian dari warga ibu kota yang berdesak-desakan di halte dan moda transportasi Bus way!

Minggu, 05 Mei 2013

International Day of the Midwife #1



5 Mei, International day of  midwives. Hari ini kami memperingati Hari Bidan sedunia, bersamaan dengan Peringatan Ulang tahun IBI ke 62 dan JHPIEGO ke 40 tahun. Usia yang sedang imut-imutnya andai dianalogikan dengan manusia, begitu Wamenkes mencandai IBI dalam Pidato sambutannya.


Peringatan ini diwujudkan dengan jalan santai bersama 2000 bidan, Silang Monas - Bundaran HI PP. Kami me-merah biru-kan monas pada pagi itu (sama sekali tidak ada hubungannya dengan partai).
 

Jalan sehat bersama bidan ini, dihadiri oleh Meneg PP Ibu Linda Agum Gumelar, Perwakilan dari Menkokesra, Wamenkes, Bapak Ali Gufron, Plt Ketua Umum IBI, JHPIEGO Indonesia, dan lainnya. Pembukaan acara dilakukan bersama-sama dengan mengangkat bendera jalan, sebagai simbol dibukanya acara.
 

Yang menarik, beberapa peserta menginterpretasikan ajakan jalan sehat ini secara kreatif, bahkan tanpa kami minta. Terdapat institusi yang mengenakan kostum Bidan masa pra-kemerdekaan. Cantik dan menarik perhatian.


Kemudian ada yang berjalan sambil memperagakan teatrikal kematian ibu dan kematian bayi. Seru dan cerdas.



Ada yang menampilkan kostum wanita disemua siklus kehidupan, remaja, dewasa, hamil, menyusui dan masa menopause.

Dan yang ini seperti mau jalan-jalan saja, santai seperti di pantai, selow, kayak di pulau. :)


Dalam bentuk seperti apapun, tujuan mereka sama, menggugah masyarakat bersama-sama bidan peduli terhadap kesehatan ibu dan anak.

Aku ingin menutup review kegiatan 5 Mei 2013 ini, dengan sebuah pesan lewat Short Message Service yang aku terima dari Ibunda kami, Yetty Irawan, beberapa saat setelah acara selesai. Pesan yang menggugahku, sungguh :

Bidan mendampingi masa emas anak untuk mempersiapkan generasi emas bangsa! Proficiat! Terimakasih Bidan! Upahmu Besar di surga.
Selamat Hari Bidan! :)
 ***
Jakarta, 5 Mei 2013

Selasa, 26 Maret 2013

Piknik Ala Anak SD : Seaworld


Kemana saja, yang penting jalan-jalan. Setelah 3 minggu berturut-turut tidak merasakan libur di hari sabtu, juga minggu. Rasanya aku benar-benar butuh liburan. Bukan libur yang tinggal di rumah saja, tapi jalan-jalan, harus. Dulu, ketika masih kuliah aku pernah merasa heran dengan beberapa teman yang aku anggap memiliki tenaga extra. Sudah bekerja full 5/7 hari, 8/24 jam, dia selalu masih punya tenaga untuk main di akhir pekan. Dalihnya, 5 hari itu kan sudah duduk saja, capek pikiran bukan capek badan. Jadi kalo akhir pekan harus main, buat refreshing. Ternyata dia benar, sekarang aku merasakannya (membutuhkannya).

Namun, Jakarta bukan tempat yang menawarkan banyak tempat wisata yang menarik, hanya pusat perbelanjaan yang paling banyak, sehingga bingung mau kemana, akhirnya kami memutuskan main ke tempat yang belum pernah kami kunjungi, Seaworld di kawasan Ancol.

Piknik ala anak SD nih, begitu pikirku begitu mendengar kata Seaworld, dan hal itu terbukti ketika mengantri membeli tiket, paling banyak adalah pasangan ibu, bapak, beserta anak mereka. Haha, banyak anak kecil. Okey, tak apa. :D


 Setelah merasakannya sendiri, ternyata keindahan seaworld tidak seperti yang banyak diiklankan di Televisi. Ekspektasinya, aku akan merasakan berjalan di bawah laut, di rongga yang seperti selang, dengan warna air biru cerah di sekelilingnya. Tetapi ternyata, kami berada di akuarium raksasa, dengan 15 ribu liter air, dan 35 ribu spesies ikan. Walau begitu, tetap menyenangkan rasanya melihat sejumlah ikan-ikan besar, Ikan pari, hiu, melintas di atas kepala, seperti berjalan didalam air. Hanya satu yang disayangkan, warna airnya, agak keruh dan semu hijau.

Akuarium Utama

Penyu berenang mengejekku

Ikan "Dory" :)
Selesai berkeliling, aku tertarik dengan kerumunan orang di dekat 'jendela' akuarium utama. Ternyata, pukul 14.00 adalah waktu bagi ikan-ikan di akuarium utama tersebut untuk diberi makan, proses pemberian makan tersebut ternyata dijadikan atraksi tersendiri, karena waktu itu ikan akan berkumpul mendekati para penyelam yang membawa makanan, dan proses tersebut bisa kami lihat melalui 'jendela' itu.  Sembari menunggu para penyelam masuk, acara di pandu oleh seorang MC, yang bertugas menjelaskan acara pemberian makan ini. Kemudian sambil bercanda-canda dan menawarkan hadiah, MC meminta salah seorang anak kecil maju kedepan.


Aji namanya, aku menaksir usianya mungkin 3-4 tahun, sudah lancar berbicara, tapi sepertinya lebih banyak dia belum tahu apa yang dia sendiri bicarakan. :D
"Aji datang kesini sama siapa?" MC bertanya.
"Sama ibu, ayah, adik" jawab Aji polos.
"Ayah, ibu, adik itu siapa nya Aji? Keluarga ya?"
"emmm...Iya"
"Wah, berarti Aji sudah berkeluarga dong"
"Iya" Masih dengan muka polos, dan *grrrr* hadirin sudah mulai tertawa.
"Kalo sudah berkeluarga, anaknya ada berapa?" ternyata MC itu memang sengaja bercanda.
" Satu"
"Wah, kalo istri? Ada berapa?"
" Dua" Grrrrrr, penonton  mulai tertawa.
"Wah, poligami yah, kalo cucu nya berapa?"
"Sembilan" terdengar seluruh penonton tertawa.

Haha, betapa polosnya jawaban Aji, tapi entah bagaimana pas dengan yang dimaksud MC. Sepertinya piknik ala anak SD ini cocok untukku. :D

Acara berlanjut, Aji sudah memperoleh sticker Seaworld yang dia inginkan, kemudian, para penyelam sudah masuk ke dalam, dan yang selanjutnya adalah menonton aksi pemberian makan tersebut.


Selesai sudah, kemudian kami keluar.
Oh ya, Satu lagi yang kuingat. Aku memuji strategi mereka dalam mengelola tempat ini, yaitu ketika keluar. Pintu keluar dari area Akuarium didesign langsung masuk ke toko aneka souvenir, seperti boneka binatang, T-shirt dan lain-lain. Kalo misalnya aku berusia 4-8 tahun pasti aku akan langsung  meminta ibu untuk membelinya. Benar-benar strategi tepat yang menjual.

Minggu, 10 Februari 2013

Things Happend For a Reason


Tidak ada yang kebetulan, setiap pertemuan dimaksudkan untuk terjadi sesuatu
Setiap keberadaan, dibutuhkan untuk saling melengkapi

Kadang terpikir, "buat apa si kecoa itu ada?". Bau, menggelikan. Sepertinya jika tak ada kecoa pun, hidupku akan tetap berjalan, tak ada orang yang merasa rugi. Kecuali mungkin para peneliti kecoa, pecinta kecoa, atau  para pecinta binatang, yang memelihara binatang yang harus diberi makan kecoa. Haha, sepertinya aku sudah menjawab sendiri pertanyaan "buat apa kecoa ada?". Tapi, ternyata kecoa berguna lebih dari sekedar untuk diteliti peneliti, dicintai pecintanya, atau dimakan pemakannya. Kecoa merupakan hewan yang dapat mengurai nitrogen dari sampah-sampah, untuk dapat digunakan tanaman untuk hidup. Kecoa makan sampah, didalam perut kecoa nitrogen dalam sampah dibuang lewat pup-nya. Pup mengandung nitrogen diserap tanaman. Tanaman hidup, dapat menghasilkan oksigen untuk bernafas. Tanaman sayur dapat dimasak, dijual dan dimakan. Dan.... Jika ditarik garis panjang, mungkin saja tanaman yang "diberi" jatah nitrogen oleh kecoa untuk hidup itu memberikan oksigen yang kebetulan aku hirup, dan mungkin juga tanaman itu yang akhirnya ada dalam bentuk oseng sayur di piring makanku. Dalam hubungan yang jauh, kecoa ada gunanya untukku. 

Things happend for a reason 
Tidak ada yang kebetulan, setiap perpisahan pun juga dimaksudkan untuk sesuatu. 

Seorang teman pernah mempertanyakan, setelah menonton Habibie & Ainun. Kenapa Pak Habibie dan Bu Ainun tidak ditakdirkan saja untuk terus bersama? Apa yang masih harus pak Habibie lakukan sehingga bu Ainun harus pergi lebih dulu? 
Dan jawabannya aku temukan persis keesokan harinya setelah aku -akhirnya- juga menonton Habibie Ainun. Dalam Talk show disalah satu Televisi swasta. Pak Habibie sendiri juga tak pernah menyangka, kenapa bu Ainun harus pergi lebih dulu. Beliau selalu percaya bahwa pada akhirnya nanti beliaulah yang akan pergi lebih dulu. Ketika Bu Ainun dipanggil, berpulang ke Rahmatullah, Pak Habibie sedih, sedih yang amat sangat, hingga beliau sakit. Sakit yang tak dapat diobati karena sumber sakit beliau adalah kondisi psikologisnya, kondisi sakit yang disebut Psikosomatik.

Dokter beliau memberikan 4 opsi , pertama, beliau harus diberi obat, seperti pasien-pasien sakit jiwa. Kedua , ketiga opsi lain aku lupa persisnya. Opsi keempat, beliau harus mencurahkan isi hati beliau kepada seseorang, psikiater, atau mungkin lewat tulisan. Pak Habibie memilih opsi yang terakhir, mencurahkan kesedihannya dalam bentuk buku. Hingga akhir beliau menulis, beliau mulai menyadari, kenapa Allah memanggil Bu Ainun lebih dulu. Jika Bu Ainun yang ditinggal Pak Habibie, mungkin Bu Ainun tak akan mencurahkan kesedihannya kepada siapa pun karena kepribadian beliau yang introvert. Tak akan ada buku Habibie & Ainun, tak akan ada Film Habibie & Ainun, tak akan sebanyak ini orang tahu tentang kisah cinta mereka. Tak akan ada orang yang seperti aku yang terinspirasi oleh kesejatian cinta mereka. Ya, perpisahan pun dimaksudkan untuk sesuatu. 

Things happend for a reason

Tidak ada kebetulan, walau menengok pada diriku sendiri, sepertinya banyak sekali kebetulan-kebetulan  yang aku temui. Seperti kebetulan sekali, aku melihat lowongan kerja pada situs yang sudah lewat deadline sebenarnya, tapi entah kenapa aku tetap mengirim aplikasiku. Kebetulan kemudian aku diterima bekerja di tempatku sekarang, dimana biasanya mereka mencari pekerja lewat rekomendasi dari internal organisasi tersebut. Kebetulan juga ketika akhirnya aku memutuskan mau bekerja disana, kemudian mulai mencari tempat tinggal (kos) aku berhenti pada sebuah warung. Warung bernama depot surabaya yang kemudian menunjukkan pada sebuah kos yang aku tinggali sekarang. Kos ini juga tidak pernah memasang plang karena biasanya yang bisa tinggal di kos ini, juga rekomendasi dari orang yang pernah tinggal di kos ini sebelumnya. Kebetulan sekali.

Tapi, thing happend for a reason, right?

Kebetulan-kebetulan ini, pasti penunjuk jalan untuk sesuatu. Sesuatu yang lebih dari sekedar untuk melihat ondel-ondel secara langsung. Atau melihat dan merasakan banjir secara langsung pula. Atau menjadi pengguna jalan macet ibukota yang biasanya hanya dilihat dari televisi. Lebih dari itu, keberadaanku disini pasti dimaksudkan untuk sesuatu. 

Kota dengan lautan beton
Di kota yang masih terasa bukan kota tempat tinggal impian ini, aku masih saja bertanya, untuk melakukan apa ya aku disini? Untuk menghasilkan apa? Atau,untuk bertemu siapa?


***

Untuk kamu saya ada,
dan untuk saya, kamu ada
Kita hadir untuk menyempurnakan satu sama lain
-Dee, Akar-



Sabtu, 19 Januari 2013

Catatan


Teringat sebuah quote yang banyak menjadi status dalam banyak media social oleh teman. Kata Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca.

"Ada kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya."

Pada pribadi yang 'tahu benar akan tujuan hidupnya'. Hanya pada yang sudah tahu benar akan tujuan hidupnya saja, kekuatan dahsyat itu akan datang.  Sementara aku masih merasa aku tak tahu apa tujuan hidupku, tak tahu benar apa yang sebenarnya ingin aku lakukan. Tidak terlambatkah aku? Kata banyak orang remajalah saatnya pencarian jati diri. Tapi aku hingga remaja akhir, bahkan mungkin sudah dapat dikatakan dewasa, aku masih mencari jati diri. Seharusnya tidak pada usiaku saat ini, yang sudah menempuh panjangnya pendidikan hingga menjadi sarjana kan? Haha, ingin rasanya mentertawakan diri sendiri. Mau dibawa kemana hidupku ini.

Hingga belakangan hidupku bergerak seperti mengikuti alur saja, kemana arus membawa. Disini lah aku sekarang, tinggal di ibukota, jauh dari keluarga. Aku melangkah menebak-nebak saja, jalan ini kah? Atau itukah? Aku berpikir kemudahan dalam proses yang membawaku kesini, adalah petunjuk bahwa disinilah seharusnya aku berada. Kujalani saja. :)

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan. Aku jarang bermasalah dengan suatu tempat baru, asal disana ada kawan yang menyenangkan, yang memang juga aku temukan disini. Tapi untuk menjalani rutinitasku sehari-hari, -meskipun aku masih tetap belum tahu- aku merasa yang aku kerjakan selama ini belum terasa 'benar'.  Sepertinya bukan jalan ini yang aku inginkan.

Tapi, tentu saja tidak bisa terus begini bukan? Dengan tidak mengurangi syukurku untuk apa yang sudah aku miliki, aku harus mulai bergerak lagi. Meskipun masih menebak, sepertinya aku harus mencoba jalan lain.  Seperti mencoba makanan asing, meskipun tidak tahu rasanya, mencobanya pasti memberi jawaban atas pertanyaan "suka kah aku pada nya?". Iya kan?

Senin, 12 November 2012

KRL ajaib

Albert Einstein, berkata " Ada 2 cara menjalani kehidupan. Pertama, seolah seperti tidak ada yang ajaib. Kedua, seolah seperti semuanya adalah ajaib."

Tentu saja, aku memilih yang ke-dua. Bagiku semua hal ajaib. Termasuk naik KRL. Apalagi di tanggal ajaib pula. Nah, yang ajaib, tentu saja perlu diabadikan bukan ? :)

Sabtu, 10-11-12 -KRL menuju jatinegara-