Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2015

Seperti danau, selamanya




First love comes a bit rush.
Seperti sungai, Alirannya menghentak-hentak. 
Terburu-buru dan tanpa kalkulasi, terjun bebas pada kesempatan pertama.
Ketika tersadar, kau sudah terlalu lelah untuk mencerna.

The next one comes in solemnly flow.
Seperti danau, alirannya tenang, tapi dalam. 
Ia datang perlahan dengan berbagai perhitungan. 
Saujana yang dirindukan.
Membuatmu terlalu nyaman, dan tak ingin beranjak.
Selamanya.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Katanya tentang Jatuh Cinta


"Seharusnya ada cara lebih efisien, singkat dan ringkas untuk jatuh cinta. Tanpa harus bertele-tele memelihara perasaan," kata si perempuan, lantas menyeka ingus dari hidungnya. "Dengan katalog lalu memesan via telpon. Lantas menjalani hidup sebisanya, sekuat cicilan, jika mampu bahagia jika tidak ya lepaskan. Tanpa beban."

Apel dan Empat Kepala, Arman Bustoni

Jumat, 07 Juni 2013

Song of the day


Mungkin benar jika musik itu mencerminkan suasana hati. Belakangan ini telingaku sedang setuju untuk mendengarkan musik-musik yang seperti ini. Musik yang tidak berlebihan, minimal dan sederhana. Seperti mereka hanya ingin menyampaikan kata saja dan kekuatan tema lewat musik mereka. Aku, yang kata teman sangat 'lebay' ini (haha), langsung  jatuh hati pada lirik-lirik awalnya. Dan nuansa yang dibawanya ketika mendengar lagu ini.

Lihat langit di atas selepas hujan reda. Dan kau lihat pelangi
 Seperti kau di sini, hadirkan sriwedari dalam suka duniawi
Suara hati kita bergema, melantunkan nada-nada
Melagu tanpa berkata, seperti syair tak beraksara, seperti puisi tanpa rima
seperti itu aku padamu.
Setapak Sriwedari- Maliq & D'essentials

 

Kemudian, suatu saat aku mengintip play list teman.  Dan kudapat beberapa ini. Yah. Aku setuju 100% dengan selera mereka. Aku suka video clipnya, suka jalan ceritanya. Setiap melihat bagian akhir dari video clip ini selalu membuat mataku panas, emm, terharu.


Then, this is Beautiful 'nina bobo' song :)

Akhirnya malam tiba juga, malam yang kunantikan sejak awal
malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan, dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya, membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari
Tidurlah, malam terlalu malam, Tidurlah, pagi terlalu pagi
Tidurlah - Payung Teduh
 

Kamis, 21 Maret 2013

Reminder

Sebuah pameran foto di Solo Grand Mall, pada suatu waktu setelah menghadiri pernikahan teman




Hari ini awalnya merupakan hari yang biasa, sebagaimana layaknya rutinitas hari kerja. Hingga temanku, yang sudah menikah, yang usianya 1 tahun lebih muda dari ku, mem-forward sebuah artikel yang dia baca.

"Ini cocok buat mbak Ari baca nih.." ujarnya.

Intinya, artikel itu bercerita tentang seorang pemuda yang masih kuliah dan bekerja sambilan yang memiliki niat untuk menikah. Tidak diperbolehkan orang tuanya menikah karena alasan ekonomi, tetapi dia berkeyakinan dia merasa sudah mampu untuk menikah. Bukan karena sudah ada pasangan yang memintanya tetapi karena ia rasa sudah saatnya. Hingga ia akhirnya mendapat restu orang tua, menemukan pasangan yang cocok, akhirnya dia menikah dalam keadaan kekurangan, terus sampai hidupnya sudah mapan memiliki anak dan pekerjaan yang tetap. Asal ada niat, bisa. Begitu pesan yang aku tangkap.

Selesai membaca, aku hanya menoleh dan tersenyum.

Kemudian siang berlalu, menjelang sore aku ke dapur, mendapati bapak, salah satu karyawan yang berusia seumur bapakku, berkata "Biar cepet ketemu jodoh yah?" sebagai balasan ketika aku berkata aku sedang berpuasa hari ini. Wah, kembali ke topik ini. Kemudian Bapak tersebut bertanya umurku (yang kemudian aku jawab 24), dan mengatakan umurku sudah sewajarnya untuk menikah. "Puasa yang rajin mbak, biar dimudahkan" bapak itu menambahkan.

Kembali ke mejaku, aku ingat tadi siang aku mengunjungi sebuah blog, yang oleh penulisnya di khususkan untuk bercerita tentang persiapan pernikahannya. Kebetulan aku adalah pembaca setia blog nya yang lain secara diam-diam. Aku sangat kagum pada kehidupan penulisnya yang lahir di tahun yang sama dengan kelahiranku, tetapi sudah mencapai banyak hal yang hingga saat ini aku pun masih mengeja bahkan hanya untuk mengatakannya.

Membaca perjalanan hidupnya saja sudah begitu menyenangkan, dan sangat menarik, aku sangat penasaran bagaimana rasanya jika menjadi tokoh yang menajalaninya. Hingga kemudian hari ini, aku menemukan jurnal khususnya (dan pasangannya) yang menceritakan tentang persiapan pernikahannya. Pasangan Arsitek dan Perencana tata kota. Bahkan dari kartu souvenir dan undangannya pun mereka design sendiri, nyeni, dan filosofis. Ada alasan dalam setiap pemilihan. Bagus dan unik. Sebagai catatan dia menambahkan list yang harus dilakukan H-365 yang harus dilakukan menjelang pernikahan. Persiapan acara pernikahan itu sudah dimulai 1 tahun sebelum hari pernikahan meraka. Wow.

Maka, aku menafsirkannya begini, bahwa : butuh waktu jauuuh lebih dari 1 tahun untuk menentukan menikah. Persiapan acara pernikahan saja sudah  butuh waktu 1 tahun, belum dihitung persiapan diri, dan waktu untuk menemukan pasangan yang dirasa tepat. Sehingga  sepertinya jika diterapkan padaku -yang persiapannya masih dari sangat nol (baru mulai mencari pasangan yang tepat)- maka secara hitung kasar manusia, akan terjadi setelah jangka waktu sekian, yang mungkin bisa dikatakan lama. Huaaa *berteriak dalam hati* :D

Menikah, bagiku adalah sebuah kata manis, yang tentu saja aku inginkan. Tapi pernikahan adalah sebuah perjanjian besar antara sepasang hamba Tuhan dengan Tuhannya. Sehingga dengan menikah genaplah Agamanya. Menikah tidak bisa sebagai ajang percobaan, sehingga diputuskan dalam waktu sangat singkat, tetapi aku rasa juga bukan hal yang terlalu sulit hingga butuh persiapan waktu lebih dari 1 tahun bahkan hanya untuk persiapan acaranya.

Hal itu lebih seperti misteri, tentang bagaimana caranya,kapan waktu nya, dengan siapa. Komitmen besar pada diri sendiri, akan bersama dengan satu orang, itu saja hingga akhir hayat. Dengannya akan menghabiskan masa senja, dengannya membesarkan anak-anak, dengannya meraih mimpi-mimpi yang belum terlaksana, merasakan gelombang kehidupan, menerima kekurangannya, bahkan hingga belajar menyukai kebiasaan buruknya.

Dan hal tersebut tidak bisa diawali dengan niatan karena sudah malas sendiri, biar ada yang memperhatikan, karena sudah malas mencari yang lain , dan sederet alasan yang mengindikasikan malas dan kepasrahan lainnya. 

Aku ingin ketika aku memutuskan untuk menikah nanti, karena aku yakin, inilah saatnya, bahwa dia memang membutuhkan aku sebagai pelengkap hidupnya. Dan, untuk sampai pada saat itu, aku juga tidak yakin akankah membutuhkan waktu dalam hitungan tahun, atau mungkin secepat terbit dan terbenamnya matahari. Tuhan yang lebih tahu.

Jadi, tentang hari ini ...
Menikah? Okey, I'll take it as reminder.  *senyum*

 ***


Sembari menunggu waktu berbuka, 21 Maret 2013.

Rabu, 30 Januari 2013

Cangkir dan kopi



"Aku cangkir, bagi kopi pahitmu", ucap Harimau jantan pada betinanya. (11.22 am near Cairo, Al Qahirah - status dalam media social seorang teman)

Jariku begitu gemas, tiba-tiba sebuah pikiran terlintas, aku mengetik ...

"Bagaimana jika kopiku banyak, dan cangkirmu tak muat lagi menampungku?" jawab betina.

Dia membalas ...

"Cangkir ini akan selalu muat menampung berapapun banyaknya kopimu, bahkan empat kali lipat-pun"

"Maka, sepertinya kau lebih pantas disebut ember serbaguna dibanding cangkir"

" :)) " sepertinya dia mengiyakan.

Lagi, suatu pertanyaan terlintas.

"Apakah itu artinya, kau rela kehilangan dirimu sendiri sebagai cangkir menjadi ember, hanya untuk memuat perubahan banyaknya kopiku?"

Tapi pertanyaan ini tak sampai terlontar. Ingin aku dengar pendapatnya tentang ini. Hanya saja sepertinya pertanyaan ini bukan untuknya, tapi untuk kujawab sendiri.

***


Selasa, 22 Januari 2013

First Love


"Kenapa cinta pertama ya?" Sudah lama aku ingin bercerita tentang hal ini, tapi masih banyak pertanyaan tentangnya yang belum terjawab. Tak bisa aku simpulkan jawabnya. Hingga ..... aku lupa.

Kemudian belakangan aku baru saja menyelesaikan menonton sebuah drama. Setelah bosan dengan cerita-cerita tentang perebutan kekuasaan, kekayaan, balas dendam yang tidak ada habisnya, juga hal-hal yang tidak masuk akal, akhirnya aku kembali menemukan drama dengan tema biasa-biasa saja, hanya tentang cinta. Cinta kepada idola, teman, orang tua, saudara, dan juga cinta pertama. Pertanyaanku terasa terjawab pada epilog drama, setelah 45 menit x 16 durasi drama tersebut.


The reason why we think first love is beautiful is not because people we first loved were actually handsome, or pretty.  
 It's because we were unconditional, innocent, or a bit stupid at the time of first love. 
And because, we know we can never go back to young, passionate time of our days.

Jadi seperti kata seorang tokoh motivator, Mario Teguh tentang cinta pertama yang juga senada, "yang kita kagumi dari cinta pertama, bukanlah ia yang kita cinta. Tapi diri kita sendiri yang bisa mencinta."

First love is a bit rash.
 Without any calculation, we throw ourselves with passion and finally come to face failure. 
But it is at the same time dramatic. It comes with inexplicable feelings that we never get to experience again.

Teringat percakapan dengan teman, tentang ketidaksukaanku pada makanan yang menyisakan aroma bawang putih mentah di mulut. Dia bilang, "aroma bawang putih itu memang susah hilang yah, kayak cinta pertama." Yang kemudian langsung disambut tawa, dan ungkapan nada persetujuan, "Eh, Iya yah"  :-)

So first love becomes the most dramatic moment of our lives. 
It's okay to fail. Tragic stories stays longer than "happily ever after". 
It's nice to have that wonderful story as one chapter of one's life.

Seperti kisah Titanic yang sampai sekarang masih aku ingat jelas, masih banyak di suka. Bahkan mungkin bisa dikatakan melegenda, seperti Romeo & Juliet, Sampek Eng tay, Laila Majnun. Meskipun rasanya sangat disayangkan kenapa tidak berakhir bersama, tapi justru karena rasa ketidakpuasan dan kekecewaan itu membuat cerita menjadi lebih terkenang.

First love is a periode of time. It never comes back. 
If the next love comes, time has to yield for that new love. 
It might not be as innocent as the first love, but 
it would be a little more mature, due to the pain suffered with the first love.

Nah, ini yang seharusnya terjadi setelah kita bisa berdamai dengan kata-kata "first" untuk kemudian membuka hati untuk menerima. Tuhan lebih tahu, siapa terbaik untuk kita.

A person who dreams of love is the one who waits. 
And a person who waits can recognize the love when it comes near him.

Tentu saja! " Radar Neptunuuuuusssss...." (sembari dua jari, jempol dan telunjuk dua tangan beradu di sisi kepala, menjadi semacam antena)

After the romance, the real life comes in,
innocent gets dirty,
passion gets cold,
and youth get old with cleverness.
So first love becomes part of the one's exhausted daily life.

Thats why first love looks like it can't be accomplished.


Pertanyaan sepertinya terjawab.


***


Drama : Replay to 1997.