Tampilkan postingan dengan label Kotak Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotak Surat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

La tansa : Aku tidak lupa

Teringat aku dengan hari-hari semasa akhir duduk di bangku SD dan SMP. Saat itu  aku menghabiskan waktu libur kenaikan kelas lima SD dengan ikut menginap di tempat kos bulik Rob (Adik bungsu Mama) yang sedang kuliah di Yogyakarta. Disana aku menemukan tumpukan majalah Annida. Masa itu adalah masa ketika majalah masih banyak dikoleksi dan cerita bersambung masih menarik perhatian pembacanya. Diantara berbagai koleksi cerita, serial dan cerbung di majalah itu, ada satu cerita serial yang menarik perhatianku. Serial itu berjudul La tansa cafe ditulis oleh Nurul F Huda. Sekali membaca aku langsung suka dengan tokoh-tokohnya. Tentu saja, setelahnya aku membongkar tumpukan majalah Annida demi membaca satu-satu serialnya di setiap edisi. Karena adanya serial itu pula aku melanjutkan mengoleksi Majalah tersebut sampai SMP, walaupun nggak lengkap juga, sih. Akhirnya aku seperti mengenal tokoh-tokoh dan cafe tersebut. Singkatnya, Latansa male cafe adalah tempat tongkrongan anak muda. Usaha itu dibangun oleh 5 mahasiswa yang tinggal di Jogja. Kafe itu adalah Kafe khusus laki-laki, dan dikelola oleh Hari, sang manager, Adjie yang tampan dan kaya, Arief, yang bijak, Jimmy, bendahara yang perhitungan, dan Fely, pria tipe metroseksual yang pandai menyanyi. Dalam bayanganku waktu itu mereka adalah mahasiswa keren yang adorable dan-karena setiap bulan ada cerita baru tentang mereka-rasanya mereka memang nyata ada. Pada masa SMP sekitar tahun 2000-an, jamannya waktu itu idola remaja berkisar pada anggota band Sheila on 7 atau Westlife dan 'N Sync  yang waktu itu sedang tenar, aku memiliki idola lain yaitu 5 tokoh di serial itu. Seandainya mereka memang benar ada, sungguh waktu itu aku sangat mengidolakan dan ingin bertemu mereka. Aneh memang. Haha. Tapi tentu saja hal itu tidak berlangsung lama. Waktu berlalu, aku beranjak SMA, ada lebih banyak tokoh idola muncul dengan bertambahnya komik dan novel yang aku baca. Jadi bisa disimpulkan hobi masa remajaku adalah terpesona pada tokoh dari novel yang aku baca. *tepok jidat* :D Never ending day-dreaming.


***

Jauh hari setelah masa itu, melewati masa mengidolakan seseorang sesungguhnya didunia nyata, aku mengenal seseorang. Seseorang  yang setelah sekian lama berkomunikasi baru kuketahui ternyata dia pun mengelola sebuah depot makan jauh di sebuah kota di benua lain sana dengan nama Latansa juga.  Herannya depot lesehan itu juga semua personilnya laki-laki dan mahasiswa. Suatu saat dalam percakapan tentang kesehariannya itu dia menyertakan sebuah foto. 
  
Saat itu aku seperti tersengat aliran ingatan tentang serial La Tansa Cafe tersebut, teringat dengan rasa pengidolaanku pada tokoh-tokohnya. Cerita selanjutnya mengalir tentang keseharian utamanya tentang Latansa dan cerita-cerita dibaliknya. Mendengarnya aku tersenyum-senyum sendiri, "Aku jatuh hati dengan kebetulan ini." Ceritanya seperti membangunkan kembali naga mimpi yang sedang tertidur lama. Aku melihat tokoh  dalam mimpi siang bolong-ku dulu itu, pada dirinya. How coincidence it was. 

Eh, adakah yang benar-benar kebetulan di dunia ini?

Selasa, 10 Maret 2015

Cemas

Kombinasi antara harapan, tekanan, 14.937 data sampel penelitian, dan akhir periode siklus bulanan membuatku terlalu sentimentil. Seakan menjadi wanita dengan beribu bayangan kecemasan. Ya Tuhan..

Kemudian, setelah percakapan pagi tadi dia berpesan : "Tak perlu banyak pikiran, nanti hatimu tak tenang."

Ya, pikiran itu harus aku singkirkan.

Kemudian ada tulisan seseorang (tak kukenal) tak sengaja terbaca juga memberi pesan : 

Sisakan kecemasanmu untuk nanti. Akan tiba waktunya kamu cemas menunggu ia pulang untuk membetulkan saluran air yang rusak, sementara air mulai menggenangi dapurmu atau musang entah dari mana, tersangkut di langit-langit rumahmu.
Sisakan kecemasanmu untuk nanti, ketika kamu suatu hari terbangun terlalu siang dan lupa untuk menyiapkan kopi hangat kesukaannya, sementara ia sudah telanjur memulai kerja tanpa kopimu. Cemaslah karena mungkin ia tidak bakal jadi membuatkanmu rak buku yang baru, atau malah batal membelikan sepeda roda tiga untuk si bungsu.
Sisakan kecemasanmu untuk nanti, suatu saat kamu betul-betul butuh.
Meskipun tidak ada yang sia-sia di dunia ini, toh pada akhirnya kamu mesti mengerti bahwa ada yang perlu dan tidak perlu–seperti kecemasan itu sendiri. Setelah berpikir demikian, terserah apakah kamu merasa sekarang perlu untuk cemas, atau tidak perlu?


Ya, rasanya memang aku tak perlu cemas.

Kemudian, peristiwa malam ini. Masalah bahkan selesai  setelah aku seharian melupakan sumber masalah. Lalu berusaha melihat ulang celah mana yang terlewatkan. Dan.. Taraa! Tuhan membuka jawaban.

Ya, sungguh, tak ada alasan bagiku untuk cemas.
Tuhan menyelesaikan segalanya.  

Kamis, 06 November 2014

#kotaksurat

Ak tau Tuhan sangat presisi.
Dia bisa saja menggugurkan setiap daun, menggoyang- goyangkannya di udara, dan menjatuhkan dg sangat tepat di tempat sampah, jika Dia mau. Seperti yg ku bayangkan jika sedang menyapu halaman. Kalau saja semua daun itu diterbangkan dan mendarat persis ditempat sampah, tak perlu ada yang repot menyapu halaman setiap pagi. (pikiran pemalas :D)

Tapi tuhan tidak melakukannya, Dia mampu andai dunia dibuat demikian, tapi tidak. Kita akan belajar lebih banyak, ketika Tuhan membuatnya tidak demikian.

Pun beberapa peristiwa dalam hidup, berlaku hukum yang sama. Beberapa peristiwa seperti dirancang tepat menggambarkan daun yang jatuh persis di tempat sampah. Tetapi beberapa tidak, atau belum. Seperti kurang beberapa remah roti untuk menjadikannya kembali seutuh keping biskuit.

Tuhan bisa saja membuat semua sepresisi itu, tapi tidak. Tentu, agar aku belajar lebih banyak.

***
Malam, waktu insomnia datang.

Minggu, 14 September 2014

Mengencani Pria yang Bukan Tipemu


Eto sensei : " You don't like Schubert at all, do you? So why did you choose Schubert for the first stage?"

Nodame  : "Why? .. Somehow.. Umm..  It's like want to try dating the type of guy whom I have never dated before.  Yes, that kinda of feeling" *smiling*

Eto sensei: "Baka! DATE A GUY WHOSE TYPE YOU HAVE DATED BEFORE!"

Cuplikan percakapan Dorama Nodame cantabille, Ep. 9





Haha, mungkin seperti itu gambaran kondisiku sekarang. Semenjak melanjutkan pendidikan alih jalur selepas diploma kebidanan, ilmuku jadi semakin "sosial". Ketika diploma, tentu saja yang banyak kupelajari adalah ilmu medis, dan itu menyenangkan, aku suka. Tapi ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan, aku terkaget-kaget dengan pilihan yang aku ambil, sehingga aku mempelajari ilmu baru yang lebih "sosial". Padahal dulunya tidak aku suka. Aku bisa mengatakan tidak menyukai beberapa topik saat perkuliahan diploma, tetapi justru ketika alih jalur, aku ambil topik itu sebagai topik skripsiku.

Kemudian sekarang, lagi-lagi aku juga dengan begitu mudahnya memilih konsentrasi pendidikan pasca sarjana yang berbeda dari minatku yang biasanya, hanya dengan alasan sudah jenuh dengan materinya. Belakangan aku sepertinya memang sedang begitu. Menyenangi mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Nekat saja mencoba yang belum pernah dicoba.

Untuk tesisku nanti, sepertinya aku akan kembali begitu. Jenuh dengan topik yang biasanya aku suka. Saat ini aku cenderung kembali akan mencoba "mengencani tipe pria yang biasanya bukan tipeku". Walaupun sekarang dia masih belum bisa kuajak bicara, sih. Aku yakin dia pribadi yang enak diajak berbicara, dan bisa jadi teman yang menyenangkan. 
*apasih

Sepertinya harus segera disudahi sebelum makin melantur dan mengalihkan diri terlalu lama. Aku harus segera memulainya. Ada yang bilang, "menunda tesis 1 hari, berarti menunda nikah 2 hari". Haha. 

Cukup! :D

Sabtu, 13 September 2014

#Tunda


Aku bertemu teman, dan dia bercerita tentang perubahan raut mukamu.

Detik itu, aku merasa harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki ini.
Sedemikian mantap, aku genggam ponsel ditangan, dan kubuka history percakapan terakhir.
Detik berikutnya,
perasaan itu hilang...


Ribuan detik setelahnya, 
Niat itu akan seperti selembar kertas soal yang harus aku jawab.
Karena aku merasa kesulitan menjawabnya, maka aku letakkan dulu di meja.
Kemudian ternyata banyak kertas soal lain yang datang.
Kertas itu aku tumpuk saja diatasnya, begitu hingga tumpukan itu meninggi.
Kertas soal pertama tadi jadi tidak terlihat, dan aku melupakannya.

Suatu ketika aku teringat kertas soal pertama tadi, pasti aku akan berkata pada diri sendiri "ah, itu bisa nanti" dan begitu seterusnya.

Akan selalu ku #tunda.

Minggu, 03 Agustus 2014

Waktu

Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet, elastis. Tergantung dari siapa yang merasakannya, sedetik rasanya bisa seperti satu tahun, satu tahun bisa terasa seperti hanya satu kedipan.

Karena waktu itu terus saja berjalan -dengan atau tanpa kehendakku- kadang aku sendiri sering tidak merasakan nilainya waktu. Maka dari itu mungkin ada anonim yang menulis tentang nilai waktu. Katanya, untuk tahu nilai 1  tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kelulusan. Untuk tahu nilai 1 jam, tanyakan pada kekasih yang menanti waktu untuk bertemu, dan untuk mengetahui nilai 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.

Ya, waktu itu berharga, ditiap menit dan detiknya. Pak ustadz kemarin juga berkata, jangan pernah berkata ingin menghabiskan waktu, karena waktu itu akan benar-benar habis, hilang dan tidak bisa diganti, maka manfaatkanlah.

Omong-omong soal manfaat waktu, menurutku bayi dan kanak-kanak lah yang paling pintar memanfaatkan waktu. Lebaran kemarin, aku bertemu Tata, sepupu, umurnya 1 lebih. Sekitar 2 ato 3 bulan yang lalu, Tata masih baru belajar melangkah (belum berjalan). Bergerak dengan iming-iming mainan yang dipegang ibu, ayah atau kakaknya. Kata yang terucap juga baru mbah, mbak, dan ucapan tak jelas. Dua bulan berikutnya, yaitu sekarang. Dia sudah lincah berjalan, tanpa bimbingan. Kata yang diucap juga sudah Bu dan lebih banyak. Selama 2 bulan itu dia menjadi pembelajar ulung, memanfaatkan waktunya untuk memulai cikal bakal mandiri dan membuka jalur komunikasi, dengan berjalan sendiri (literally).

Lalu, diwaktu yang sama, bagaimana denganku?

*hening*

Eh, dalam heningpun ternyata memakan waktu.


***

Selasa, 15 April 2014

April bunga



Flowers are the sweetest things that God ever made, and forgot to put a soul into. 
                                                                                                       Henry Ward

Aku harap, dia yang menemaniku nanti adalah orang yang mencintai tanaman, seperti bapak.

Akan sangat menyenangkan nantinya jika halaman rumah kami penuh dengan tanaman berbunga. Sesekali nanti aku akan mendapat kado tak terduga dengan mekarnya bunga di suatu sore ketika pulang ke rumah. Mungkin suatu saat akan ada minggu pagi yang cerah, sembari minum teh aku akan mengirimi anak-anak foto tanaman yang kami tunggu bunganya. Seperti yang baru saja dilakukan mama beberapa waktu lalu.

haiy kaktus, akhirnya kamu berbunga..

Rinda's Junior

 
One fine day in Kebumen. Seeing friend, and her junior. I do realize, time would never go back. Kebumen, 12-04-2014


Rasanya masih sama seperti baru dua atau tiga hari tak bertemu. Persis jika aku main kekosnya atau dia main ke kosku. Seperti baru kemarin, wisuda diploma kemudian kami sama-sama melanjutkan di Diponegoro Semarang. Mengerjakan tugas kelompok, main bersama, aerobik kemudian lanjut masak-masak bersama di kos. Hingga kemudian aku wisuda, selanjutnya aku mendatangi wisudanya, dan ternyata itu adalah kali terakhir kami bertemu.

Kemudian banyak episode hidupnya yang aku lewatkan, pernikahannya yang bertepatan dengan tugas kerjaku,  kemudian kelahiran juniornya beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku punya kesempatan menemuinya lagi kemarin, setelah 2 tahun. Tapi rasanya masih tetap sama, kami masih masak-masak bersama, ngobrol dan curhat. Namun yang berbeda sekarang ada celotehan kecil yang ikut-ikut menyahuti ketika kami tertawa, atau meminta perhatian ketika kami terlalu serius mengobrol. Wohoo.. Selamat datang Arsya, semoga silaturahmi bunda dan tante akan selalu terjaga. :)  

Arsya Ghifari Al Mubarok


Kamis, 16 Januari 2014

Cerita : Kado yang Terlambat

Hujan petang itu menemani mendung  yang sudah muncul sedari pagi. Dari sebuah rumah kos yang tua, salah satu penghuni kamarnya baru saja selesai mandi, sembari mengeringkan rambutnya perempuan itu menengok ponselnya dan mendapati sebuah pesan, dari salah satu temannya :

"Aku baru pulang dari lereng merapi, dan kubawakan untukmu hadiah yang kau minta dari dulu ... "

Ia terdiam sesaat, berpikir, kemudian ia membalas

" Apa ya? Aku lupa ... *emoticon tersenyum meringis*"

" Ini dia" laki-laki diseberang sana mengirimkan sebuah foto. Dengan sabar perempuan itu menunggu untuk melihat foto apa yang dia kirim. Kemudian muncul lah, foto seikat bunga kecil-kecil tanpa daun yang dipegang tangan.
" Edelweis?? Wuaaa!! "

" Iyaa, kamu dulu pernah minta kan?"

" Emang iya? Kapan? Lagian ngapain kamu hujan-hujan ke Merapi?"

"Tadi memang ada acara disana, nggak naik kok cuma di lereng, liat ada edelweiss, terus aku inget kamu, dulu aku pernah menjanjikan bunga ini buat kamu"

" Iya? Kapan?"

"Pas ulang tahun mu" itu sudah 5 bulan yang lalu. Perempuan itu kemudian teringat percakapannya dengan laki-laki  itu di hari ulang tahunnya, tentang hadiah, tentang bunga, bahwa aku tak ingin diberi kado bunga mawar, karena ia bisa layu.

" Ah, tapi itu setengah bercanda"

" Tapi aku janji akan membawakannya, dan akhirnya aku punya kesempatan untuk membayar janji itu"
" Harusnya nggak perlu sampai seperti itu, tapi ... Terimakasih *emoticon tersenyum*"
Memang sungguh benar-benar ada senyum dibibir perempuan itu. Hatinya tergugah.


" Jadi ini, kado ulang tahun yang terlambat datang ya?"

" Ah iya, kado cantik.. " senyum itu selalu mengembang di bibirnya.


***

Keesokan harinya, setelah mereka bertemu diantara jam kuliah, edelweis itu sudah ada ditangannya.  Ia pandangi, dan diantara rasa senangnya, entah kenapa ia merasa ada ketidakadilan disana. Mengapa ia tidak dijatuh-cintakan pada laki-laki itu saja, yang memenuhi setiap janji yang diucapkannya, yang selalu ingat apa yang perempuan itu katakan padanya. Mengapa hatinya malah jatuh pada laki-laki lain, yang tak juga bisa memenuhi janjinya, padahal sesungguhnya janji itu sangat sederhana. Ibarat kau disodorkan segelas susu tapi justru merindu pada segelas air putih.

Selasa, 31 Desember 2013

HUFT


Dan bukannya sebaik-baik kangen itu kangen yang saling mendoakan satu sama lain, tanpa yang didoakan itu perlu tahu? 
Someone's blog

Minggu, 10 November 2013

Kotak Surat #1


Disatu sisi, seperti ingin melepas burung ditangan, membiarkannya terbang bebas, menemukan tempat baru, berkawan dengan sebanyak -banyak orang, belajar sedalam-dalamnya, dan  menikmati waktu semuda-mudanya.


Disisi lain, aku tidak ingin terbang sebebas itu. Aku ingin membangun sangkarku sendiri dan untuk itu, aku ingin kau tak pergi kemana-mana, dan segera pulang.


Kemudian aku mengingat, apa yang membuatku tertarik padamu? 
Adalah hidup bebas bertualang yang kamu miliki. Aura pemuda yang muncul dari waktu dan bebas yang kamu miliki itu. 
Dan jika aku memintamu untuk pulang, maka (mungkin) aura yang aku kagumi dulu itu akan tidak ada lagi pada dirimu.


Hingga pada akhirnya, aku sadar, bahwa mungkin perkenalan ini memang hanya ditakdirkan untuk mengenal saja, tidak sampai untuk bertemu.
Tentu saja keinginan itu ada, tetapi dengan itu,
aku akan memintamu untuk mengorbankan banyak hal, yang mungkin itu adalah mimpimu,
dan aku,
tak akan tega untuk membuatmu berusaha sejauh itu.

Aku memilih untuk tetap memandangmu dari jauh, mengagumimu saja, seperti dulu saat aku pertama kali mengenalmu.

Selasa, 24 September 2013

Mahasiswa lagi


Sudah sejak awal September ini perkuliahan dimulai, tapi hingga saat ini, aku belum merasa bahwa aku kembali memasuki dunia perkuliahan. Aroma perkuliahan sebenarnya langsung tercium ketika memasuki gerbang kampus dan melihat lorong-lorong penuh mahasiswa. Tapi, rasanya masih terkaget-kaget kalau ternyata terlalu banyak yang sudah aku lupa, masih banyak yang harus dipelajari kembali. Kemudian bertemu tugas-tugas, yang membuat harus belajar lebih banyak lagi. 

Entah kenapa, rasanya aku belum bisa fokus disini. Rasanya mindset di otakku belum mengatakan kalau aku sedang bersekolah lagi. Hingga tadi siang, Ketua Minat di program studi yang aku ambil, memasuki ruang kelas. Beliau mengatakan  selamat datang, capailah suatu tujuan. Jika anda belum memiliki tujuan, maka saat ini adalah saatnya anda menentukkan arah tujuan tersebut.

Ucapan beliau mengingatkanku, tentang alasanku kembali ke bangku ini. Aku tak tahu apakah nantinya jalan ini akan mengarah pada tujuan seperti yang sudah direncanakan. Tapi aku yakin, satu langkah kembali kebelakang ini, merupakan landasan untuk melanjutkan beribu langkah kedepan.

KIA-KR 2013 in Outbond

Bersama mereka kumulai lagi sebuah perjalanan. Bersama-sama untuk menemukan hal baru, belajar memahami, dan melakukan sesuatu yang positif untuk diri  bahkan mungkin untuk bangsa ini.

Kuucapkan pada diriku sendiri, "Selamat menjadi mahasiswa (lagi).."

Minggu, 15 September 2013

Carpe Diem

Carpe diem!

Kutipan puisi latin ini merupakan pesan yang aku terima dari teman setelah aku menuliskan sedang berada di lombok dalam status account social media-ku beberapa waktu lalu. Kubaca sekilas.

Kemudian, keesokan harinya, tiba saatnya aku snorkling di selat kecil antara gili trawangan dan gili meno. Aku, yang hanya bisa renang gaya botol (hehe), langsung ragu apakah akan ikut atau tidak, mengetahui site snorkling kami adalah laut (meskipun laut itu hanya selat dan dangkal). Lalu, kuingat pesan temanku, Carpe diem. Seize the day.  Yah, kesempatan mungkin tidak datang dua kali, kesempatan paling baik untuk mencoba semua hal baru adalah saat ini. Iya kan? Karena itu, tentu saja aku mencobanya, meskipun ada sedikit ragu pada detik saat kakiku akan menyentuh air laut.

Tetapi hap!
<3 span="">
Meskipun agak sulit membiasakan nafas dengan mulut, tapi bisa melihat laut sejernih itu sungguh menyenangkan. Dengan bonus minum air laut yang entah kenapa rasanya asin luar biasa  disana, dan lelah walaupun baru sebentar, aku kembali ke perahu. Teman yang tidak ikut snorkling bercerita, melihat aku dan teman-teman snorkling di laut,seperti melihat korban kapal tenggelam, karena menyebar dan terombang ambing oleh ombak. Kalau aku melihat itu sebelumnya pastilah aku tidak akan berani. Haha. Tapi aku sudah mencobanya, yah rugi adalah ketika kita tidak memanfaatkan kesempatan untuk mencoba semua hal baru untuk pertama kalinya.

***

Ketika kita sudah bisa beradaptasi dengan suatu hal, dan menjadikannya sebuah kebiasaan, maka waktu akan berlalu begitu saja ketika kamu mengerjakannya. Ya, rutinitas ini bernama pekerjaan. Waktu rasanya hanya berlalu begitu saja selama beberapa bulan terakhir. Senin sampai Jumat, Sabtu dan Minggu, pekerjaan yang lebih sering berada di balik meja. Aku menyenangi atmosfir kekeluargaan disini,  banyak hal baru pula yang aku pelajari, tapi rasanya tetap saja, hatiku berkata bukan seperti ini yang ingin aku lakukan seterusnya.

Lalu seperti apa? Aku memang pemimpi, tapi mimpiku tak muluk-muluk. Sederhana saja, aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik, memiliki pekerjaan yang memungkinkanku melakukan tugasku menjadi ibu rumah tangga itu dan tinggal tidak 'terlalu' jauh dari orang tua. Bukan seperti ini, bekerja nine to five, lima dalam tujuh hari, hanya mempunyai jatah cuti 12 dalam 365 hari, masih pula terkadang skip weekend.

Kemudian, suatu ketika  kesempatan terbuka. Kesempatan untuk menemukan pekerjaan yang lebih fleksibel untuk cita-citaku itu. Kesempatan untuk melakukan hal yang aku sukai yaitu bersekolah lagi. Tetapi tentu saja itu artinya keluar dari zona nyaman, keluar dari kebiasaan hanya duduk dan bergaji. Sesaat kemudian aku sedikit ragu. Inikah jalan?

Tetapi kemudian aku ingat lagi pesan temanku, Carpe diem, iya betul, kesempatan ini, tak akan aku tahu akhirnya jika aku tidak mencobanya.
Teman yang lain juga pernah berkata "Memang, perjalanan kita itu sudah di takdirkan, tetapi kita wajib untuk mengusahakan. Kita baru boleh berhenti untuk mengejar suatu mimpi, dan berkata takdir kita tidak mengarah kesana, hanya jika ketika semua pintu kesempatan yang dicoba sudah di tutup."

Oleh karena itu, kesempatan ini datang, kesempatan ini masih terbuka untukku, tidak ada yang menghalangiku untuk menuju kesana selain pilihanku sendiri. Maka, kumantapkan niat. Kubulatkan tekad. Mungkin kemudahan selama aku mengusahakannya, adalah petunjuk dari Allah tentang jalan yang aku minta.

Berbekal semangat dari orang tua dan teman-teman aku mantap memilih.  Kuhubungi mama untuk mengatakan pilihanku ini, mama memberi doa,  semoga harapan mama dan harapanku bertemu disuatu titik setelah aku memilih pilihan ini.  Diakhir percakapan kami, mama berkata, Bulik bilang punya teman, pria, usia cukup matang, di Magelang, sudah bekerja, dan sedang mencari pasangan untuk menikah, kamu mau dikenalkan?

Aku terdiam, petir menyambar.. (Haha, hashtag lebay)Tolong yaaaa... Tolong! Kamu! Kamu! Yang katanya naksir saya, hentikan agenda berbau perjodohan ini. :( 

***
Carpe diem, Quam minimum credula postero
Seize the day, Putting as little trust as possible in the next (Day)
Baris puisi oleh Horace
***

Tentang pesan mama tadi...  I believe in the next day :)

Senin, 19 Agustus 2013

Agustus Terpanjang

Einstein pernah menyatakan bahwa waktu itu relatif, bukan absolut. Waktu seperti karet. Ia bisa memanjang atau memendek, relatif, bergantung bagaimana kita memperlakukan karet tersebut. 1 detik bisa terasa seperti 1 tahun, dan sebaliknya  1 tahun bisa berlalu rasanya seperti 1 detik. Tergantung dari bagaimana kita memperlakukan waktu tersebut.

Dan bagiku, bulan Agustus ini, adalah Agustus terpanjang yang pernah terasa. Banyaknya rencana di bulan ini membuatku menunggu datangnya Agustus. Mulai dari pulang, dan libur selama 2 minggu, membuatku menunggu-nunggu datangnya jauh dari bulan-bulan sebelumnya. Tiket pulangku yang bertanggal 2 Agustus bahkan sudah dipesan 90 hari sebelum hari H. Janji libur selama 2 minggu di Bulan Agustus  itu juga sangat aku tunggu, setelah merasakan rasanya tidak bisa libur lebih dari 4 hari selama setahun belakangan.

8 hari dibulan Agustus, Lebaran datang. Meskipun sudah tidak seperti anak kecil yang sangat menyenangi hari Lebaran, aku tetap menanti datangnya lebaran itu. Menanti membuat ketupat bersama bapak, makan soto yang cuma dimasak sekali setahun, dan menanti berlebaran di Magelang yang selalu mengenyangkan.

9 hari kemudian, ada acara tujuh belasan. Entah kenapa, di kampung ku, Agustusan seperti acara yang tidak patut dilewatkan. Pertanyaan "pulang nggak pas pitulasan?" sering dilontarkan sebagai sapaan bagi sesama perantau. Namun ketika hari itu tiba, dan aku kebetulan sedang berada di rumah, pitulasan  seperti berlalu bergitu saja. Yah, 17 Agustus hanya akan sekedar menjadi tanggal dan hari, jika kita tidak memaknainya.

Dan yang lebih membuat Agustus ini sangat terasa tiap hari- harinya, adalah karena aku menunggu. Jawaban atas banyaknya pertanyaan yang dilontarkan bapak, ibu, juga beberapa teman yang aku beritahu, dijanjikan akan diumumkan bulan ini. Tapi belum juga datang. Aku punya pikiran positif, bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap doa. Tergantung dari apa yang kita minta dan kita usahakan. Dan pada titik ini, aku percaya, apapun hasilnya nanti adalah jawaban terbaik dari doaku.

Setiap hari dalam bulan Agustus ini aku meyakinkan diri demikian, dan imbasnya, bulan Agustus kali ini sungguh dapat aku hitung tiap jamnya. Ini baru hari ke-19 di bulan Agustus, tapi rasanya seperti sudah banyak bulan. Seperti karet yang ditegangkan maksimal. Agustus kali ini menjelma menjadi Agustus terpanjang yang pernah terasa.

Ada yang berkata, bahwa Allah mengajarkan kita melalui alam semesta. Bahwa kegelapan paling gelap adalah pada dini hari menjelang matahari terbit. Jadi ketika rasanya hari-hari ini adalah hari yang tergelap, maka katanya, "Selamat! Karena sebentar lagi matahari akan terbit... "

Semoga, Agustus terpanjang ini menjadi agustus yang Indah nanti pada waktunya. :)

Rabu, 10 Juli 2013

Jodoh, Jauh dan Dekat


Jodoh itu mendekatkan yang jauh. Menjauhkan yang dekat.


Bagaimana tidak?

Ada orang yang selalu aku temui setiap pagi, saat berangkat ke kantor, berpapasan di jalan yang rutin aku dan orang lain itu lewati. Membeli makan ditempat yang sama, menunggu di halte yang sama, berada di kendaraan umum yang sama, tapi aku tak mengenalnya. Bertemu tapi sepertinya aku tidak berjodoh untuk mengenalnya.

Sementara itu,
Ada yang terpisah jarak ratusan kilometer, tak juga saling berpapasan di jalan, 
tidak berada dalam satu kota, tapi aku mengenalnya.

Jika begitu, 
lalu berjodohkah kami untuk bertemu? Berpapasan di jalan?
Membeli makan di tempat yang sama, kemudian 
untuk berbagi tempat duduk dengannya di kendaraan umum? 
Seperti aku berjodoh untuk mengenalnya?


Tanpa Judul


Salam, salam, salam,

Terimalah salam dari kami, yang ingin maju bersama-sama..

 

400 anak dari usia 3 hingga 8 tahun memasuki ruangan, bersama-sama mereka menyanyi syair tersebut, suaranya bergema memenuhi ruangan, membuat bulu kuduk meremang, bukan karena takut tapi takjub.  Suara mereka membuatku merasakan aura ... apa ya? aura takjub dan semangat mungkin. Para tamu undangan lain sibuk tertawa senang dan memberikan tepuk tangan, tapi aku? Tersenyum pun tak bisa, aku sibuk menahan diri agar tidak menangis! Entah kenapa rasa haru muncul memenuhi kerongkonganku sehingga mataku berbayang penuh air mata. Tapi aku tidak ingin menangis di tempat ramai seperti ini. Ah, kenapa ya, aku cengeng sekali, hal begini saja membuatku ingin menangis.
 
Pernah dilain kali, aku menonton film garuda di dadaku dan King bersama rafi, aku pun tak bisa menahan untuk tidak menangis saat melihat tokoh utama mendapat semangat luar biasa cinta pada tanah airnya, lagu garuda di dadaku bergema, kemenangan yang dipersembahkan untuk negara. Hal begitu membuatku menangis terharu. Rafi, adikku, menertawakanku.

Sepertinya, jika sudah menjadi ibu nanti, mungkin aku adalah tipe ibu yang tidak akan bisa berkomentar, dan hanya bisa menangis jika melihat anakku sekedar tampil di panggung, membaca puisi, atau menyanyikan 'You are my everything'. Haha, payah sekali.

Entah, patriotisme over dosis, atau terlalu cinta pada anak-anak, atau memang karena cengeng, aku menangis pada hal yang orang lain umumnya tidak akan menangis jika melihatnya. 

Datang ke sebuah acara AICINDA  (Anak Indonesia Cinta Damai) adalah sebuah kebetulan yang mengingatkanku pada kebiasaanku yang 'aneh' ini. Acara yang aku datangi setengah hati hanya karena aku tidak menemukan alasan, untuk mengatakan tidak bisa datang. Hingga akhir acara, aku masih sibuk bertepuk tangan sambil sedikit mengusap air mata. :' )


Selasa, 02 Juli 2013

...

Dan, kemarin.
Jawaban dari pertanyaan sudah tersedia.
Tapi,
Ragu, entah kenapa datang.

Tuhan, inikah jalan?
Inikah langkahku untuk mendekat?

Rabu, 26 Juni 2013

26 Juni


26 Juni, Tahun lalu

Aku sedang excited bersiap akan pergi, setelah sesorang mengajakku makan, malam itu. Suara gaduh kecil terdengar di depan pintu kamarku, tak lama terdengar suara imut dan tidak jelas memanggil namaku dan mengetok pintu.

Kubuka pintu dan terlihat 'mbak Aira'  dengan tanpa ekspresi, mengacungkan kue kecil dengan lilin menyala di tengahnya, sambil mengeja mengatakan.

"tse..la..mat.. u..lang..tahun..kak..ariii.." kemudian dia tersenyum, manis sekali.

Tangan jenar menggapai-gapai dari belakang, mbak Rinta dan mas Dani (ibu dan bapak kosku yang baru mengenalku selama sekitar dua bulan) tersenyum di belakangnya dan mengucapkan selamat ulang tahun. Mereka tahu.

Aku tersenyum saat itu. Terharu.


26 Juni, Tahun ini

Happy birth day "ijjah" Wish You All the Best - Tim Hore IBI
Meskipun sekarang aku mendapat julukan baru, ijah (fiuuhh), haha, tapi rasanya hangat di kota yang katanya "sekejam ibu tiri" ini.

Dan lagi sorenya, aku tertawa terpingkal-pingkal, setelah menggagalkan sesuatu yang seharusnya jadi kejutan untukku sore ini. Ahaha. Tapi toh tetap diadakan, memang tidak perlu kejutan, karena sudah jelas ini tidak terlihat seperti kejutan :D

Tradisi mereka adalah, apapun selama sudah ada lilin terpasang, maka sudah sah untuk disebut kue ulang tahun.  :D

Di hari yang selalu berulang setiap tahun ini, selalu ada kegembiraan yang berulang pula. Selamat 26 Juni. :)

Rabu, 28 Desember 2011

Seperti Cabut Gigi

Semarang, 28 Desember 2011, 22.54 WIB


Sungguh, kehilangan dan kegagalan, proses untuk melewatinya sangat mendewasakan. Kehilangan bisa dianalogikan seperti proses cabut gigi geraham. Ketika dicabut mungkin tidak sakit. Tapi terasa ada yang hilang. Tidak lama kemudian, baru sakit itu mulai terasa, menghentak-hentak sekali. Setelah sakitnya hilang, lidah akan bolak-balik mengecek pada posisi hilangnya gigi gerahamnya itu. Merasa gigi itu masih ada , tapi ternyata tidak ada. Memastikan ketidakberadaannya. Ada lubang disusunan gigi disana. Rahang kehilangan gigi gerahamnya. Seperti itu juga yang aku rasakan. Ada tempat yang seharusnya terisi, rasanya masih terisi, tapi ternyata sudah tidak ada.

Aku kehilangan.

Memang benar jika ada yang bilang, hal apa yang sangat tidak pasti di dunia ini? Itulah perasaan manusia. Justru semakin keras kita menggenggamnya, semakin kita menginginkannya, dia akan semakin terlepas, persis seperti menggenggam pasir.

Entah kenapa proses kehilangan itu berat. Mungkin karena ada bagian dari diri kita yang menolaknya, tapi kita memaksakannya untuk menerima. Seperti kebanyakan cara orang untuk melupakan perihal kehilangan itu, aku menjauhi semua aktivitas yang biasa aku lakukan tapi yang mengingatkanku padanya. Semua kenangan berusaha dihapus. Sebagian besar kebiasaan diubah. Hasilnya aku bukan diriku lagi. Mungkin itu yang menambah berat proses melupakan.


Tapi aku yakin, semua ini pasti berujung, suatu saat aku pasti bisa menceritakan ini dengan tanpa merasa menyedihkan, bahkan sambil tertawa. Saat itu pasti aku sudah lupa. Ya. Petaka yang tidak bisa diubah, obatnya adalah sabar dan lupa.

Jumat, 18 November 2011

Love is like?

Love, Like
Mencintai itu hal yang rumit. Suatu ketika aku mencintai seseorang atau sesuatu, tetapi juga tidak menyukai semua atau setiap detil dari dirinya.

Mencintai secara utuh, may be that's the true love is.
ketika aku mencintai seseorang, ternyata aku bisa menyukai orang lain. Menyukai sifat orang lain.

Seandainya, kamu bisa seperti orang yang aku sukai, maka lengkap lah cinta yang aku punya. Mencintai juga menyukai.