Rabu, 13 Januari 2016

Penyakit Lama

Rasanya aku perlu mendeskripsikan ulang hal-hal yang bisa dikatakan menyedihkan. Kalau memang keluarnya air mata itu disebabkan oleh hal yang menyedihkan. Atau kata 'haru' kalau air mata juga boleh keluar ketika sedang haru.

Entah se-mengharukan atau sesedih apa adegan itu menurut orang kebanyakan, tapi aku berurai air mata, tak bisa ditahan, ketika melihatnya. Adegan perayaan kemenangan kompetisi sepak bola seorang ayah, kapten tim pemenang, ditemani oleh anak-anaknya.


Middle video of Return Of  Superman, ep 110. *Korean child nurturing variety show.  


Minggu, 27 Desember 2015

Seperti danau, selamanya




First love comes a bit rush.
Seperti sungai, Alirannya menghentak-hentak. 
Terburu-buru dan tanpa kalkulasi, terjun bebas pada kesempatan pertama.
Ketika tersadar, kau sudah terlalu lelah untuk mencerna.

The next one comes in solemnly flow.
Seperti danau, alirannya tenang, tapi dalam. 
Ia datang perlahan dengan berbagai perhitungan. 
Saujana yang dirindukan.
Membuatmu terlalu nyaman, dan tak ingin beranjak.
Selamanya.

Minggu, 28 Juni 2015

La tansa : Aku tidak lupa

Teringat aku dengan hari-hari semasa akhir duduk di bangku SD dan SMP. Saat itu  aku menghabiskan waktu libur kenaikan kelas lima SD dengan ikut menginap di tempat kos bulik Rob (Adik bungsu Mama) yang sedang kuliah di Yogyakarta. Disana aku menemukan tumpukan majalah Annida. Masa itu adalah masa ketika majalah masih banyak dikoleksi dan cerita bersambung masih menarik perhatian pembacanya. Diantara berbagai koleksi cerita, serial dan cerbung di majalah itu, ada satu cerita serial yang menarik perhatianku. Serial itu berjudul La tansa cafe ditulis oleh Nurul F Huda. Sekali membaca aku langsung suka dengan tokoh-tokohnya. Tentu saja, setelahnya aku membongkar tumpukan majalah Annida demi membaca satu-satu serialnya di setiap edisi. Karena adanya serial itu pula aku melanjutkan mengoleksi Majalah tersebut sampai SMP, walaupun nggak lengkap juga, sih. Akhirnya aku seperti mengenal tokoh-tokoh dan cafe tersebut. Singkatnya, Latansa male cafe adalah tempat tongkrongan anak muda. Usaha itu dibangun oleh 5 mahasiswa yang tinggal di Jogja. Kafe itu adalah Kafe khusus laki-laki, dan dikelola oleh Hari, sang manager, Adjie yang tampan dan kaya, Arief, yang bijak, Jimmy, bendahara yang perhitungan, dan Fely, pria tipe metroseksual yang pandai menyanyi. Dalam bayanganku waktu itu mereka adalah mahasiswa keren yang adorable dan-karena setiap bulan ada cerita baru tentang mereka-rasanya mereka memang nyata ada. Pada masa SMP sekitar tahun 2000-an, jamannya waktu itu idola remaja berkisar pada anggota band Sheila on 7 atau Westlife dan 'N Sync  yang waktu itu sedang tenar, aku memiliki idola lain yaitu 5 tokoh di serial itu. Seandainya mereka memang benar ada, sungguh waktu itu aku sangat mengidolakan dan ingin bertemu mereka. Aneh memang. Haha. Tapi tentu saja hal itu tidak berlangsung lama. Waktu berlalu, aku beranjak SMA, ada lebih banyak tokoh idola muncul dengan bertambahnya komik dan novel yang aku baca. Jadi bisa disimpulkan hobi masa remajaku adalah terpesona pada tokoh dari novel yang aku baca. *tepok jidat* :D Never ending day-dreaming.


***

Jauh hari setelah masa itu, melewati masa mengidolakan seseorang sesungguhnya didunia nyata, aku mengenal seseorang. Seseorang  yang setelah sekian lama berkomunikasi baru kuketahui ternyata dia pun mengelola sebuah depot makan jauh di sebuah kota di benua lain sana dengan nama Latansa juga.  Herannya depot lesehan itu juga semua personilnya laki-laki dan mahasiswa. Suatu saat dalam percakapan tentang kesehariannya itu dia menyertakan sebuah foto. 
  
Saat itu aku seperti tersengat aliran ingatan tentang serial La Tansa Cafe tersebut, teringat dengan rasa pengidolaanku pada tokoh-tokohnya. Cerita selanjutnya mengalir tentang keseharian utamanya tentang Latansa dan cerita-cerita dibaliknya. Mendengarnya aku tersenyum-senyum sendiri, "Aku jatuh hati dengan kebetulan ini." Ceritanya seperti membangunkan kembali naga mimpi yang sedang tertidur lama. Aku melihat tokoh  dalam mimpi siang bolong-ku dulu itu, pada dirinya. How coincidence it was

Eh, adakah yang benar-benar kebetulan di dunia ini?

Selasa, 26 Mei 2015

Tawang mangu : sebuah memoar

Bulan ini kami sekeluarga akhirnya menyempatkan mengunjungi kembali kota tempat dulu aku dan adik menghabiskan masa kanak-kanak, Tawang Mangu. Kembali setelah lima belas tahun itu rasanyaa... takjub! Aku tersenyum-senyum sendiri ketika kami berjalan menuju rumah kontrakan kami dulu. Setiap sudut gang itu adalah taman bermainku dan Rafi dulu.  Entah bagaimana perasaan Rafi, karena katanya dia sama sekali tidak ingat lingkungan itu, hanya beberapa katanya.









Hampir semua dilingkungan ini masih sama, hanya berubah lebih bagus. Grojogan Sewu, Pasar tawang mangu, Toko Saya, dan terminal masih ada dan berubah lebih bagus. Aku mengingat Toko Saya karena setiap sebulan sekali bapak mengunjungi kami (Mama, aku dan Rafi) pasti  mengajak beli es krim di Toko Saya.  Toko bangunan disamping gang sudah berubah menjadi koperasi. Rumah-rumah disana hanya beberapa yang mengalami perbaruan, ada juga bahkan yang ditinggalkan. Dalam perjalanan beberapa tetangga mengenali kami, mengenali Mama tentunya, sebagian besar sudah lupa wajahku dan Rafi  (tentu saja, aku Rafi umur 11 dan 3 waktu itu, muka kami pasti berubah). Cerita mengalir tentang bagaimana kami dulu, keseharian kami dan hal-hal yang berkesan yang masih teringat sampai sekarang. Tentang beberapa teman yang sudah pindah dan kemudian eyang-eyang yang sudah meninggal.  Aah... Jadi begini rasanya reuni setelah bertahun-tahun tak bertemu dan tak ada komunikasi.


"Aku nggak inget apa apa, mbak, tapi nggak tau seneng rasanya hari ini" kata Rafi. Ya, aku pun senang. Tawang mangu menempati sudut tersendiri di ruang memori. Selamanya akan selalu teringat sebagai tempat bermain selama 4 tahun yang menyenangkan. Kami punya sodara jauh yang masih mengingat kami betapapun lamanya kami tak kembali.

Eh, Perjalanan itu juga mengingatkanku dengan waktu yang sudah berlari secepat pertumbuhan tinggi Rafi yang dulu hanya setinggi pusar. Juga usia Bapak dan Mama yang sampai setengah abad tahun ini.



Terimakasih Tuhan, kami masih bisa bersama seperti ini. Semoga bisa bersama seterusnya, dan bapak mama mendapat semua yang masih menjadi keinginan beliau di usia mereka yang mencapai angka 50 ini.


*ditulis pada hari ulang tahun bapak, 24 Mei

Minggu, 03 Mei 2015

Song of the Day

"Aku, kamu dan cerita kita, ditemukan dalam kasih sayang semesta..." Filosofi dan Logika -- Glenn Fredly

Selepas menonton filosofi kopi kemarin, masih ada beberapa lagu yang terngiang-ngiang di kepala. Lagu itu begitu menggelitik, membuat gemas. Kenapa? Karena liriknya. :)


 


 

Jumat, 01 Mei 2015

Kamu

Ada jeruk, anggur, apel, aku mengambil mangga. Kenapa? Ya, setelah menimbang-nimbang sepertinya aku lebih membutuhkan mangga. 
Ada mobil, motor, aku memilih sepeda. Kenapa? Ya itu pilihan.

Lalu seperti biasa, bahkan ketika sudah mengupas mangga ternyata kudapati bagian ujungnya masih masam. Ketika memilih sepeda, datanglah hujan, tak lama kemudian hari berubah cerah seketika. Sehingga akhirnya membayang-bayangkan apa rasanya menaiki mobil dicuaca yang mudah berubah ini.

Saat itu, siapa yang paling membuatku ragu dengan pilihan? Ternyata tak lain, hanya kamu. Iya, kamu, yang ada dihadapan ketika bercermin.

Selasa, 10 Maret 2015

Cemas

Kombinasi antara harapan, tekanan, 14.937 data sampel penelitian, dan akhir periode siklus bulanan membuatku terlalu sentimentil. Seakan menjadi wanita dengan beribu bayangan kecemasan. Ya Tuhan..

Kemudian, setelah percakapan pagi tadi dia berpesan : "Tak perlu banyak pikiran, nanti hatimu tak tenang."

Ya, pikiran itu harus aku singkirkan.

Kemudian ada tulisan seseorang (tak kukenal) tak sengaja terbaca juga memberi pesan : 

Sisakan kecemasanmu untuk nanti. Akan tiba waktunya kamu cemas menunggu ia pulang untuk membetulkan saluran air yang rusak, sementara air mulai menggenangi dapurmu atau musang entah dari mana, tersangkut di langit-langit rumahmu.
Sisakan kecemasanmu untuk nanti, ketika kamu suatu hari terbangun terlalu siang dan lupa untuk menyiapkan kopi hangat kesukaannya, sementara ia sudah telanjur memulai kerja tanpa kopimu. Cemaslah karena mungkin ia tidak bakal jadi membuatkanmu rak buku yang baru, atau malah batal membelikan sepeda roda tiga untuk si bungsu.
Sisakan kecemasanmu untuk nanti, suatu saat kamu betul-betul butuh.
Meskipun tidak ada yang sia-sia di dunia ini, toh pada akhirnya kamu mesti mengerti bahwa ada yang perlu dan tidak perlu–seperti kecemasan itu sendiri. Setelah berpikir demikian, terserah apakah kamu merasa sekarang perlu untuk cemas, atau tidak perlu?


Ya, rasanya memang aku tak perlu cemas.

Kemudian, peristiwa malam ini. Masalah bahkan selesai  setelah aku seharian melupakan sumber masalah. Lalu berusaha melihat ulang celah mana yang terlewatkan. Dan.. Taraa! Tuhan membuka jawaban.

Ya, sungguh, tak ada alasan bagiku untuk cemas.
Tuhan menyelesaikan segalanya.  

Senin, 09 Februari 2015

Dalam pikiran

Ada rona warna yang terbayang ketika mendengar kata pernikahan
dan warna itu merepresentasikannya dengan tepat.
Putih, dengan semburat tipis biru, ungu dan hijau yang menenangkan.

Kamis, 06 November 2014

#kotaksurat

Ak tau Tuhan sangat presisi.
Dia bisa saja menggugurkan setiap daun, menggoyang- goyangkannya di udara, dan menjatuhkan dg sangat tepat di tempat sampah, jika Dia mau. Seperti yg ku bayangkan jika sedang menyapu halaman. Kalau saja semua daun itu diterbangkan dan mendarat persis ditempat sampah, tak perlu ada yang repot menyapu halaman setiap pagi. (pikiran pemalas :D)

Tapi tuhan tidak melakukannya, Dia mampu andai dunia dibuat demikian, tapi tidak. Kita akan belajar lebih banyak, ketika Tuhan membuatnya tidak demikian.

Pun beberapa peristiwa dalam hidup, berlaku hukum yang sama. Beberapa peristiwa seperti dirancang tepat menggambarkan daun yang jatuh persis di tempat sampah. Tetapi beberapa tidak, atau belum. Seperti kurang beberapa remah roti untuk menjadikannya kembali seutuh keping biskuit.

Tuhan bisa saja membuat semua sepresisi itu, tapi tidak. Tentu, agar aku belajar lebih banyak.

***
Malam, waktu insomnia datang.

Minggu, 14 September 2014

Mengencani Pria yang Bukan Tipemu


Eto sensei : " You don't like Schubert at all, do you? So why did you choose Schubert for the first stage?"

Nodame  : "Why? .. Somehow.. Umm..  It's like want to try dating the type of guy whom I have never dated before.  Yes, that kinda of feeling" *smiling*

Eto sensei: "Baka! DATE A GUY WHOSE TYPE YOU HAVE DATED BEFORE!"

Cuplikan percakapan Dorama Nodame cantabille, Ep. 9





Haha, mungkin seperti itu gambaran kondisiku sekarang. Semenjak melanjutkan pendidikan alih jalur selepas diploma kebidanan, ilmuku jadi semakin "sosial". Ketika diploma, tentu saja yang banyak kupelajari adalah ilmu medis, dan itu menyenangkan, aku suka. Tapi ketika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan, aku terkaget-kaget dengan pilihan yang aku ambil, sehingga aku mempelajari ilmu baru yang lebih "sosial". Padahal dulunya tidak aku suka. Aku bisa mengatakan tidak menyukai beberapa topik saat perkuliahan diploma, tetapi justru ketika alih jalur, aku ambil topik itu sebagai topik skripsiku.

Kemudian sekarang, lagi-lagi aku juga dengan begitu mudahnya memilih konsentrasi pendidikan pasca sarjana yang berbeda dari minatku yang biasanya, hanya dengan alasan sudah jenuh dengan materinya. Belakangan aku sepertinya memang sedang begitu. Menyenangi mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Nekat saja mencoba yang belum pernah dicoba.

Untuk tesisku nanti, sepertinya aku akan kembali begitu. Jenuh dengan topik yang biasanya aku suka. Saat ini aku cenderung kembali akan mencoba "mengencani tipe pria yang biasanya bukan tipeku". Walaupun sekarang dia masih belum bisa kuajak bicara, sih. Aku yakin dia pribadi yang enak diajak berbicara, dan bisa jadi teman yang menyenangkan. 
*apasih

Sepertinya harus segera disudahi sebelum makin melantur dan mengalihkan diri terlalu lama. Aku harus segera memulainya. Ada yang bilang, "menunda tesis 1 hari, berarti menunda nikah 2 hari". Haha. 

Cukup! :D

Sabtu, 13 September 2014

#Tunda


Aku bertemu teman, dan dia bercerita tentang perubahan raut mukamu.

Detik itu, aku merasa harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki ini.
Sedemikian mantap, aku genggam ponsel ditangan, dan kubuka history percakapan terakhir.
Detik berikutnya,
perasaan itu hilang...


Ribuan detik setelahnya, 
Niat itu akan seperti selembar kertas soal yang harus aku jawab.
Karena aku merasa kesulitan menjawabnya, maka aku letakkan dulu di meja.
Kemudian ternyata banyak kertas soal lain yang datang.
Kertas itu aku tumpuk saja diatasnya, begitu hingga tumpukan itu meninggi.
Kertas soal pertama tadi jadi tidak terlihat, dan aku melupakannya.

Suatu ketika aku teringat kertas soal pertama tadi, pasti aku akan berkata pada diri sendiri "ah, itu bisa nanti" dan begitu seterusnya.

Akan selalu ku #tunda.

Senin, 11 Agustus 2014

Sendratari Ramayana

Semenjak Mei lalu, ada kumpulan foto yang meminta diunggah. Ini dia, Sendratari Ramayana. Sendratari Ramayana atau dalam tiketnya disebut Ramayana Ballet Prambanan, merupakan pertunjukkan rutin. Yang aku saksikan ini merupakan sendratari yang dipentaskan di teater terbuka, satu cerita penuh dalam satu pertunjukkan. Karena hanya pementasan pada bulan purnama saja yang akan dibagi menjadi 3 episode dalam 3 hari. Keuntungan menonton pada teater terbuka adalah backgroundnya! Kuberitahu kawan, pertunjukkan dengan latar Prambanan dimalam hari itu cantik. :)

Seperti pementasannya yang tanpa kata-kata, aku juga tidak akan berpanjang-panjang cerita. Let's picture do tell the story.





















*****

Minggu, 03 Agustus 2014

Waktu

Kalau kata Einstein, waktu itu seperti karet, elastis. Tergantung dari siapa yang merasakannya, sedetik rasanya bisa seperti satu tahun, satu tahun bisa terasa seperti hanya satu kedipan.

Karena waktu itu terus saja berjalan -dengan atau tanpa kehendakku- kadang aku sendiri sering tidak merasakan nilainya waktu. Maka dari itu mungkin ada anonim yang menulis tentang nilai waktu. Katanya, untuk tahu nilai 1  tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam ujian kelulusan. Untuk tahu nilai 1 jam, tanyakan pada kekasih yang menanti waktu untuk bertemu, dan untuk mengetahui nilai 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta.

Ya, waktu itu berharga, ditiap menit dan detiknya. Pak ustadz kemarin juga berkata, jangan pernah berkata ingin menghabiskan waktu, karena waktu itu akan benar-benar habis, hilang dan tidak bisa diganti, maka manfaatkanlah.

Omong-omong soal manfaat waktu, menurutku bayi dan kanak-kanak lah yang paling pintar memanfaatkan waktu. Lebaran kemarin, aku bertemu Tata, sepupu, umurnya 1 lebih. Sekitar 2 ato 3 bulan yang lalu, Tata masih baru belajar melangkah (belum berjalan). Bergerak dengan iming-iming mainan yang dipegang ibu, ayah atau kakaknya. Kata yang terucap juga baru mbah, mbak, dan ucapan tak jelas. Dua bulan berikutnya, yaitu sekarang. Dia sudah lincah berjalan, tanpa bimbingan. Kata yang diucap juga sudah Bu dan lebih banyak. Selama 2 bulan itu dia menjadi pembelajar ulung, memanfaatkan waktunya untuk memulai cikal bakal mandiri dan membuka jalur komunikasi, dengan berjalan sendiri (literally).

Lalu, diwaktu yang sama, bagaimana denganku?

*hening*

Eh, dalam heningpun ternyata memakan waktu.


***

Lucu maksimal!



This little cute boy, is a gag actor. He deliver his cuteness with his funny way to easy get confused dan forget all things. Even for simple question like, "Vano, sampun papung dereng?". He get confused and ask his friend, "Dede (he call himself) si wis papung urung?"

Gubrak! *emot ketawa guling-guling*

Kamis, 17 Juli 2014

Surat untuk mu, Sahabat


Berteman dengan mu selalu menyenangkan. Aku ingat, suatu  ketika sedang suntuk tiba-tiba kamu memberi solusi mengajakku ketempat dan melakukan hal yang sangat aku suka, ke pantai dan melihat senja. Untuk bepergian dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam, caramu mengajak seperti pergi ke warung membeli jajan, kepikiran dan langsung jalan. Aku ingat bahkan tak salah satu dari kita yang memakai jaket.

Betapa beruntungnya aku, langit yang  mendung saat itu, ternyata setengah jam menjelang terbenam matahari langit barat bebas awan. Senja sore itu, langit barat jingga merona dan aku hanya bisa tersenyum ternganga melihatnya. Kutoleh langit timur, kearah pandanganmu, dan kulihat pelangi. Aku hari itu bagai anak kecil yang dibelikan permen. Senang. 

Kapan hari lagi, begitu lagi, senja atau waktu lain, tempat sama atau tempat yang lain. Tak terasa terkumpul banyak folder file foto, yang jika aku ingat dengan siapa, maka jawabannya adalah denganmu waktu itu aku habiskan.  
 
Kemudian, suatu saat pernah kau utarakan tentang suatu kekhawatiran. Karena katamu tiba-tiba terpikir olehku, jangan-jangan, nanti akan ada lebih banyak kenangan seperti senja saat itu denganmu dibandingkan dengan suamiku kelak.

Maka, selain seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ini lah sebenarnya alasan yang paling jujur dari sikapku yang mungkin kau anggap sebagai perubahan. Lalu sekejap saja rasanya, semua memburuk seperti sekarang. Dan aku kini... tak tahu harus bagaimana.

Kamis, 26 Juni 2014

Juni






Untuk kebahagiaan yang selalu berulang di Juni, meski kali ini Juni seperti aku lewatkan begitu saja. Kuhadiahkan pada diri sendiri dengan Semarang dan pulang.

Kamis, 29 Mei 2014

Siang Tadi

Lampu merah pertigaan Sokaraja, 11.20 WIB

Turun dari angkutan bis ekonomi Pemalang -Purwokerto, aku bersiap berjalan yang lamanya paling sekitar 10 menit. Ingin menghemat waktu barang 30 menit, makanya aku memillih berjalan ke tempat agen bus, alih-alih duduk saja sampai terminal. Ransel dipundak, masker terpakai, jaket kututupkan dikepala. Matahari terik, aku berjalan sambil menunduk dan menginjak bayanganku sendiri. Menikmati berjalan, aku play musik di kepala lalu bernyanyi dalam hati. Tiba di jembatan, mataku menangkap laju air sungai dari sela lempengan beton, maka pandanganku mengikuti aliran airnya. Kemudian ditengah aliran sungai itu kulihat tubuh manusia, sedang mandi rupanya. Ah laki-laki pula! Kualihkan pandangan segera kembali ke jalan raya, musik dikepala seketika berhenti.  

Fokus berjalan, aku tak lagi menunduk, lebih berhati-hati karena jalan ini tidak bertrotoar. Trotoar penuh pedagang sehingga aku berjalan di bagian jalan raya. Tak akan lama lagi, pikirku. Samar-samar  dari kejauhan aku lihat seseorang berjalan agak cepat kearahku. Semakin mendekat semakin jelas, kalo tubuhnya kotor, berantakan, dan tak ada kain selembar pun dibadannya! Ya Allah apalagi ini.. >,< Aku mempercepat langkah  dan berjalan semakin ketengah, sambil menutupkan jaket kemuka.  Dan orang gila itu lewat begitu saja, aku menarik nafas panjang. Laki-laki  penjual ayam goreng pinggir jalan yang menjadi saksi adegan tadi menyapaku sambil tertawa-tawa.

Kalau 10 menit perjalanan klenteng menuju agen bis di sokaraja tadi dalam narasi drama, mungkin aku akan menabrak tak sengaja seorang pangeran yang sedang menyamar jadi rakyat jelata. Haha. Tapi ini kehidupan nyata, makanya, aku malah bertemu dua laki-laki tak berpakaian! Haha,  Hari apaaa ini  -,-

Selasa, 15 April 2014

April bunga



Flowers are the sweetest things that God ever made, and forgot to put a soul into. 
                                                                                                       Henry Ward

Aku harap, dia yang menemaniku nanti adalah orang yang mencintai tanaman, seperti bapak.

Akan sangat menyenangkan nantinya jika halaman rumah kami penuh dengan tanaman berbunga. Sesekali nanti aku akan mendapat kado tak terduga dengan mekarnya bunga di suatu sore ketika pulang ke rumah. Mungkin suatu saat akan ada minggu pagi yang cerah, sembari minum teh aku akan mengirimi anak-anak foto tanaman yang kami tunggu bunganya. Seperti yang baru saja dilakukan mama beberapa waktu lalu.

haiy kaktus, akhirnya kamu berbunga..

Rinda's Junior

 
One fine day in Kebumen. Seeing friend, and her junior. I do realize, time would never go back. Kebumen, 12-04-2014


Rasanya masih sama seperti baru dua atau tiga hari tak bertemu. Persis jika aku main kekosnya atau dia main ke kosku. Seperti baru kemarin, wisuda diploma kemudian kami sama-sama melanjutkan di Diponegoro Semarang. Mengerjakan tugas kelompok, main bersama, aerobik kemudian lanjut masak-masak bersama di kos. Hingga kemudian aku wisuda, selanjutnya aku mendatangi wisudanya, dan ternyata itu adalah kali terakhir kami bertemu.

Kemudian banyak episode hidupnya yang aku lewatkan, pernikahannya yang bertepatan dengan tugas kerjaku,  kemudian kelahiran juniornya beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya aku punya kesempatan menemuinya lagi kemarin, setelah 2 tahun. Tapi rasanya masih tetap sama, kami masih masak-masak bersama, ngobrol dan curhat. Namun yang berbeda sekarang ada celotehan kecil yang ikut-ikut menyahuti ketika kami tertawa, atau meminta perhatian ketika kami terlalu serius mengobrol. Wohoo.. Selamat datang Arsya, semoga silaturahmi bunda dan tante akan selalu terjaga. :)  

Arsya Ghifari Al Mubarok


Selasa, 18 Maret 2014

Ullen Sentalu


"Ulating blencong sejatine tataraning lumaku"- Ullen Sentalu

Nama tempat ini diambil dari akronim bahasa jawa tersebut, yang berarti “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”

Ullen Sentalu.. Ullen Sentalu.. aku senang mengulang ulang  nama ini. :D Ibarat after taste dari minum kopi adalah rasa pahit, atau setelah makan, rasa yang diharapkan adalah kenyang, begitu pula setelah mengunjungi tempat ini .  Aku merasa seperti benar-benar baru saja mengunjungi museum. Pengetahuan kami bertambah. Tak ada foto selama berada dalam museum, tapi guide menjelaskan dengan teliti setiap koleksi yang ada.  Sehingga kami  memang benar-benar merasa baru saja mengunjungi museum seni dan budaya jawa, khususnya budaya kerajaan mataram islam.


"Potongan relief ini miring bukan terjadi akibat gempa." Jelas mbak Anis, Guide kami mencoba melucu, "Tapi dibuat sedemikian sebagai  bentuk keprihatinan pada generasi sekarang yang sudah tak mencintai kebudayaannya sendiri."

"Makanya, terimakasih untuk mbak-mbak dan mas yang datang kesini, masih mencintai budaya sendiri."

Tapi sungguh, niat kami tidak setulus itu. Teringat jawaban teman ketika ditanya "Emang disana ada apa?" ketika akan berangkat ke ullen Sentalu, mudah saja dia menjawab dengan "Bisa foto-foto". Dan benar saja, satu tempat bisa berkali-kali foto dengan banyak gaya. :))